Bidak catur tergelar dalam berbagai peran dan kekuatan. Pion tidak pernah memilih untuk memainkan peran sebagai si paling lemah, yang sangat terbatas geraknya, yang hanya bisa bergeser satu petak. Pun benteng, yang baginya hanya ada satu pilihan untuk berjalan lurus sesuai garis titik kakinya berpijak. Jika boleh memilih, mungkin semuanya ingin jadi Ratu, si Ster, yang paling bebas kesana kemari menyetir permainan, bergerak tanpa batas. Permainan catur lekat menggambarkan kehidupan. Soal memilih, dipilih, atau tetap memilih walau ditakdirkan untuk dipilih.
Peran manusia sejatinya dipagari oleh takdir dan garis tangan. Itulah mengapa manusia merupakan makhluk yang terbatas. Sebagian besar faktor yang mempengaruhi hidup manusia justru berada diluar kendalinya, sementara hanya ada satu saja hal yang anomali, yaitu bagaimana kita mengendalikan diri. Ada banyak episode kehidupan yang lekat dengan penolakan. Meskipun, tidak semua orang cukup kuat untuk menghadapinya. Penolakan identik dengan kepahitan, kegagalan, dan ketidakberdayaan. Kadangkala, manusia tersandera pada ilusi tentang citra buruk dari "menjadi orang yang tidak dipilih", ketimbang membatasi diri bahwa keputusan yang diambil oleh orang lain adalah hal yang berada diluar kuasa kita.
Ada hal yang luput dari pandangan saat kita mengalami penolakan atau kondisi tidak dipilih, yaitu bahwa seringkali, faktor tersebut tidak selalu murni disebabkan oleh segala sesuatu yang ada didalam diri kita. Sederhananya, yang baik tidak selalu cocok, meskipun yang cocok belum tentu yang paling baik. Disanalah sepenuhnya takdir yang berbicara. Jika kita tidak dipilih, tidak selalu berarti ada yang salah dalam diri. Namun satu fakta yang sangat jelas, yaitu bahwa takdir tidak pernah menggariskan nama kita ada pada keputusan tersebut.
Boleh jadi, kita terpenjara oleh ekspektasi, dan bayangan seolah segala sesuatu dapat kita atur sedemikian rupa. Satu kunci yang sering terlupakan adalah introspeksi diri dan mengambil pelajaran yang mungkin dapat dipetik untuk melakukan perbaikan. Barangkali, diri kita belum siap atas kesempatan dan keputusan tersebut, atau justru karena rezeki dan takdir sudah ditetapkan pada episode yang berbeda. Bahkan, boleh jadi sebetulnya kita sedang diselamatkan, dari hal buruk tersembunyi yang tidak kita ketahui. Annotating a realistic saying, that "what is yours will eventually be yours, and what is not, no matter how hard you try, will never be".
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H