Mohon tunggu...
Miftah Nashir
Miftah Nashir Mohon Tunggu... -

Sejak SMA doyan nulis, akhirya menemukan pelampiasan dari hobinya ini dengan cara Nge_Blog. Menaruh minat yang tinggi pada bahasa Inggris, Psikologi dan Penelitian Sosial\r\n......karena suatu insiden menguntungkan, akhirnya kuliah di UIN SGD Bandung, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam dan terpaksa (baca : dipaksa) nyantri di sebuah pesantren mahasiswa sebagai konsekwensi menjadi "mahasiswa tanggungan Kementrian Agama". \r\n\r\nadmin dari http://belajarbahasakore.net

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Status Mahasiswa Sebagai Topeng

5 Juni 2010   00:45 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:44 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Banyak yang memandang bahwa mahasiswa adalah kelompok sosial yang strategis sekaligus unik yang berperan dalam perubahan sosial-politik, unik karena mahasiswa cenderung memiliki idealisme yang masih terbebas dari hal berbau politis. Strategis karena, dengan posisinya sebagai insan intelektual yang memiliki pengetahuan dipandang mampu dalam melakukan perubahan serta memiliki cukup banyak waktu untuk mengaktualisasikan diri sebagai insan akademis, hal ini kemudian menjadikan mahasiswa sebagai aktor intelektual dalam setiap perubahan sosial.
Bahkan menurut Anwar (1981), sudah menjadi truisme bahwa gerakan protes mahasiswa, terutama di Dunia Ketiga, memainkan peranan sangat penting dan berposisi sentral dalam percaturan politik. Maka tak heran, para penguasa tidak bisa mengabaikan posisi sosial serta dampak aspirasi politik mereka. Ini kemudian menjadikan mahasiswa memiliki bargaining position yang penting dalam struktur sosial.
Sebagai insan akademis mahasiswa memiliki potensi kekuatan fikir untuk mengkritisi fenomena-fenomena sosial-politik, sehingga kemudian mereka menjadi solution maker dalam permasalahan yang berkembang. Terlebih lagi sebagai generasi muda, mahasiswa memiliki idealisme yang mendorong mereka untuk bergerak, melawan dan mengkritisi penguasa. Masih segar di ingatan kita bagaimana mahasiswa mampu menembus tembok kekuasaan tirani yang semena-mena terhadap rakyat. Waktu itu, kawan-kawan mahasiswa dan rakyat berdemo menuntut ditegakkannya keadilan, menuntut adanya reformasi, sampai akhirnya sang “raja” pun terjungkal dihadapan kekuatan mahasiswa, atau tengok saja peristiwa-peristiwa bersejarah seperti lahirnya Boedi Oetomo atau peristiwa Malari, semuanya tak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa.
Maka hal diatas cukup bagi saya untuk merasa bangga menyandang status mahasiswa, walaupun pada kenyataanya belum begitu merasakan betul tentang esensi menjadi seorang agent of change. Ungkapan-ungkapan yang mengumbar tentang kehebatan mahasiswa tidak begitu kentara ketika saya mengalaminya sendiri. Ternyata, banyak hal diluar dugaan, banyak hal yang bertentangan dengan apa yang saya pikirkan tentang mahasiswa. Ya, dengan menyandang status mahasiswa, dengan embel-embel kata “maha”, menjadikan komunitas ini terasa superior diantara golongan pelajar lainnya. Lantas, apakah superioritas mahasiswa ini menjadikan kualitasnya diatas siswa? Atau identitas sebagai mahasiswa hanya sebuah topeng kepalsuan untuk mendapat pengakuan di masyarakat?
Batin saya berontak ketika melihat banyak ketimpangan yang terjadi. ketika kita melihat gaya hidup kebanyakan mahasiswa yang tidak mencerminkan cita rasa intelektualitasnya, menjadikan status mahasiswa sebagai topeng untuk menutupi kelemahan diri, atau sekedar mendapat pengakuan sebagai golongan berpendidikan, atau mungkin saja sebagai pelarian atas realitas hidup yang membingungkan, dengan kata lain, dari pada nganggur, mending kuliah saja, supaya dapat “beasiswa” dari orang tua.
Apakah masa-masa kejayaan mahasiswa telah berlalu, sehingga yang terjadi kemudian adalah merajalelanya hedonisme diiringi memudarnya budaya berpikir kritis, atau mungkinkah mahasiswa kehilangann arah, tentang apa yang harus diperbuat, atau bisa jadi menjadi korban zaman dengan merebaknya budaya serba instan, yang melenakan kita.
Budaya instan telah membuat kita malas berpikir tentang apa itu arti kerja keras, tentang apa itu hak kekayaan intelektual, sehingga kita merasa tidak berdosa ketika menjiplak artikel di internet, dan mengklaim bahwa itu hasil diri sendiri. Tentunya masih segar di ingatan kita, seorang mahasiswa pascasarjana di sebuah Institut terkenal, menjiplak jurnal ilmiah karya orang lain, dan lucuya itu terjadi pada universitas kaliber dunia. Sungguh menggelikan!
Kalau sudah begini, Quo Vadis Mahasiswa Indonesia ?

Banyubiru, Friday, June 04, 2010

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun