"Hmm iya juga ya, Pak. Kita nggak pernah tahu puasa kita diterima atau tidak tetapi wajib hukumnya bagi yang mengimani rukun iman yang enam itu."
"Lalu, bagaimana dengan yang lemah, sakit, orang tua dan anak-anak yang belum bisa puasa? Apakah tidak beriman?"
"Hmm, beda itu permasalahannya."
"Jelasin dong, Pak."
"Memanggil hambanya yang beriman sesuai dengan QS Al Baqarah ayat 183 ini tidak bisa semata-mata ditafsirkan berdasarkan terjemahannya saja. Semua aturan dalam agama kita ada penjelasannya. Bahkan kamu menguap saja itu ada aturannya, apatah lagi ini perkara puasa, aktivitas yang menahan seorang hamba dari makan, minum dan melakukan aktivitas maksiat lainnya secara sadar.
Ada aturan bagi mereka yang lemah, orang tua, ibu melahirkan dan nifas, anak-anak jika dipaksakan maka akan memberikan bahaya bagi diri mereka. Nah, di sinilah kemudian kita benar-benar diuji lagi imannya bahwa Allah itu Maha Penyayang."
"Wah, iya ya Pak. Saya sampai lupa bahwa Allah punya sifat yang tidak mungkin menyusahkan atau memberatkan hambaNya sekalipun di mata orang lain itu sesuatu yang sangat menyiksa."Â
***Â
Dari diskusi panjang dengan bapak saat kecil, pelan-pelan saya belajar menahan lapar. Pesan yang paling saya ingat dari bapak dulu, "Allah tuh pengen kamu merasakan gimana susahnya mau makan tidak ada yang bisa dimakan. Kalaupun ada itu bukan milikmu."Â
Nah, sejak saat itu selalu semangat untuk menghadapi bulan Ramadan. Selalu meyakini bahwa ketika saya menjalankan puasa berarti saya termasuk orang yang beriman, meyakini bahwa banyak hikmah dan manfaat puasa yang sudah ditetapkan-Nya.Â