Pagi yang setia
Pada embun yang kian renta
Siang yang lugu
Mendekap matahari
Yang lelap di bawah alismu
Dan sore yang luka
Ditinggal senja yang menua
Aku dan musim
Bagai pengantin yang berzikir
Di atas tanah kering
Dan retak oleh doa
Kemarau menjadi luapan rindu
Hujan menjadi nama Ibu
Ia lahir di antara dedaunan kering
Menjadi sumur tanpa sumber
Dan mengering di pipimu
Tanpa hujan yang berpijak
Pada air mata yang meresap
Di bawah rembulan
Yang mengakar di wajahmu
Aku dan musim
Bagai rindu yang tergenang
Di antara air matamu
Yang selalu mengalir
Menjadi lautan rindu
Tanpa muara
Dan tak pernah renta
Pagi yang setia
Siang yang lugu
Dan sore yang luka
Engkau semakin renta
Merewat rindu dan doa
Di antara wirid hujan dan kemarau
Dan aku mengutuk musim
Yang selalu merenggut rindu
Menikamnya dengan namamu, Ibu.
Di wajahmu
Rindu bermula dan bermuara
Dan di doamu matahari berakhir
Jakarta, 221215Â
-Selamat Hari Ibu-Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H