Meskipun perjalanan melalui sungai memakan waktu yang lama dan biayanya mahal, mereka tak peduli. Dalam benak mereka, semua kesulitan itu akan terbayar begitu mereka tiba di kampung halaman.
Speed boat melaju cepat di atas sungai yang berliku. Pemandangan alam Kalimantan yang memukau sesekali menarik perhatian mereka. Hutan hijau yang lebat, sungai yang lebar dan tenang, serta langit biru yang cerah menjadi latar belakang perjalanan mereka. Namun, tak ada yang lebih membuat hati mereka berdebar selain memikirkan momen ketika mereka akan menginjakkan kaki di tanah kelahiran setelah sekian lama.
Setibanya di kampung, mereka disambut oleh suasana yang familiar namun juga terasa asing. Kampung mereka sudah banyak berubah. Rumah-rumah kayu tua sebagian besar telah diganti dengan bangunan yang lebih modern. Wajah-wajah yang mereka kenal sebagian sudah tiada, digantikan oleh generasi yang lebih muda. Namun, ada beberapa hal yang tetap sama---aroma tanah basah, suara aliran sungai, dan keheningan yang menenangkan.
Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Salah satu saudara mereka yang sudah tua menyambut mereka dengan pertanyaan yang mengejutkan dan meresahkan. "Untuk apa kalian pulang ke sini?" tanya sang saudara dengan nada dingin. "Harta kita sudah habis, tidak ada yang bisa dibagi lagi."
Kata-kata itu seperti menghujam hati mereka. Mereka datang bukan untuk harta, bukan untuk warisan. Namun, pertanyaan itu membuat mereka merasa seolah-olah kehadiran mereka tak diinginkan, seolah-olah pulang kampung hanya dianggap sebagai upaya mencari keuntungan materi.
Padahal, niat mereka tulus, hanya ingin kembali merasakan kenangan masa lalu, mengunjungi tempat yang mereka cintai sebelum waktu membawa mereka pergi selamanya.
Bibi saya yang lebih tua terdiam, tak tahu harus berkata apa. Sementara itu, bibi saya yang lebih muda mencoba menjelaskan. "Kami datang bukan untuk mencari harta," ujarnya dengan suara bergetar. "Kami hanya rindu. Kami hanya ingin melihat kampung ini sekali lagi sebelum kami meninggal."
Namun, kata-kata itu tampaknya tak cukup untuk mengubah suasana. Sang saudara tua tetap diam, tampak acuh tak acuh. Mungkin baginya, kerinduan dan kenangan tak lagi berarti. Ia sudah hidup terlalu lama dengan kesulitan, mungkin terlalu terbiasa dengan rasa kehilangan, hingga tak ada lagi tempat untuk nostalgia.
Kedua bibi saya merasa sangat sedih. Perjalanan yang seharusnya penuh kebahagiaan kini diwarnai oleh perasaan terluka. Mereka datang dengan harapan bisa merasakan kembali kehangatan kampung halaman, tetapi yang mereka dapatkan hanyalah kekecewaan. Rasa rindu yang begitu besar ternyata tidak bisa menghapus kenyataan pahit bahwa kampung halaman sudah tak lagi sama seperti dulu.
Namun, mereka tak ingin larut dalam kesedihan. Setelah merenung, mereka menyadari bahwa kampung halaman memang sudah berubah, begitu pula dengan orang-orang di dalamnya. Hidup terus berjalan, dan perubahan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Meski terasa menyakitkan, mereka tahu bahwa waktu tak bisa diputar kembali.
Hari-hari berikutnya di kampung dihabiskan dengan cara yang lebih tenang. Mereka berusaha menikmati setiap momen, meski perasaan terluka itu belum sepenuhnya hilang. Mereka berjalan-jalan di sekitar kampung, mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi.