“....“Waktu berkumpul keluarga” biasanya menjadi ajang nyebahi gara-gara harus siap berkali-kali diberondong pertanyaan “kapan lulus”, “kapan nikah?” dan berbagai jenis pertanyaan “kapan” lainnya. Pertanyaan gak mutu yang biasanya dilemparkan oleh sanak saudara yang lebih tua.
Mereka yang suka ngasih pertanyaan itu ndak tau aja, tiap pertanyaan jenis kapan itu dilontarkan, yang lebih muda ini sebenernya udah untup-untup pengen banget balik nanya, “kapan mati?”...”
Itu adalah penggalan artikel yang ditayangkan mojok tahun lalu.
Tiga sampai empat tahun yang lalu saat aku mulai merantau, aku tidak berlebaran di rumah selama 2 atau 3 kali lebaran karena kepentok pekerjaan. Berlebaran di rumah pun mungkin hanya 1 atau 2 hari saja untuk pindah tidur. Sehingga aku tidak terkena sindrom pertanyaan “kapan” itu.
Sampai pada tahun lalu, aku bisa libur seminggu saat lebaran. Dan berdatanganlah pertanyaan pribadi yang menyebalkan itu padaku membuatku agak menyesal mengambil jatah libur. Di mulai dari pertanyaan ‘kapan nikah’ sampai pertanyaan’ kenapa gak kerja kayak gini gajinya lebih banyak?’. Dan aku juga jadi dibanding-bandingkan dengan saudaraku yang seprofesi denganku dari sisi gaji. Apa sih? Rejeki udah ada yang atur kali...
Untung aku punya ayah yang keren dan pengertian.
Semua pertanyaan tadi ditangkis dengan kata-kata, “biarin aja, orang dia yang menjalani.”
Sejak saat itu aku ikut arus untuk membenci waktu berkumpul keluarga. Kemarin, saat berlebaran ke rumah seorang kerabat, seseorang yang masih aku panggil simbah menceritakan kerabat lainnya yang bercerita bahwa anaknya naik pangkat dan berpenghasilan tinggi. Tiba-tiba moodku jadi rusak karena teringat pada pengalaman tidak menyenangkan tahun lalu.
Saat ibuku mengajak kami untuk berkunjung ke rumah saudara yang dimaksud, aku agak enggan. Dan ayahku menangkap keenggananku.
“Kamu pasti gak mau kesana karena denger cerita simbah tadi...” katanya saat ayahku sudah mengenakan kemeja dan aku masih duduk di meja makan.
“Inget gak sih taun lalu dia mbanding-mbandingin aku sama cucunya yang naruh nama di apotek trus dianya mengerjakan pekerjaan lain itu? Aku ma dia punya prinsip yang berbeda, plis. Hidup itu bukan masalah berapa banyak rupiah yang terkumpul!” kataku.