Tanggal 26 April akan selalu kuperingati sebagai salah satu tanggal bersejarah dalam hidupku.
Rasa syukur aku panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Hari ini, genap setahun, lewat tangan-tangan para medis aku dibebaskan dari belenggu derita Malformasi Chiari yang bisa menyebabkan kelumpuhan.
Telah bertahun-tahun, aku sering didera sakit kepala hebat, bumi seperti berputar-putar. Aku kehilangan keseimbangan.
Di waktu lain, leherku terasa sangat tegang. Sakit sekali jika digerakkan. Aku sering tidak bisa tidur dengan posisi berbaring. Sehingga malam-malam dihabiskan dengan duduk di sofa dan menggunakan bantal untuk menyangga leher.
Di waktu lain, ada yang berdengung-dengung di telinga kananku.
Aku sudah beberapa kali mengunjungi dokter dan menceritakan keluhanku, tapi tidak ada diagnosa khusus mungkin karena sakit yang kurasa itu datang dan pergi.
Bukankah sakit kepala berputar-putar (vertigo) dan sakit leher adalah sakit yang bersifat umum: masuk angin, terlalu capek, atau terlalu stress.
Masa pandemi Covid-19 membuatku tidak bisa memeriksakan diri ke rumah-sakit karena tempat itu diprioritaskan untuk pasien Corona.
Manalagi untuk ke sana, aku perlu surat pengantar dari dokter keluarga sedangkan sampai saat itu dokterku belum bisa mendiagnosa penyakit serius apapun.
Di Jerman, rujukan ke rumah sakit hanyalah bagi pasien yang tidak bisa ditangani di klinik dokter.