Apa yang ditunjukkan dalam alur dan adegan cerita drakor memang unik dan selalu bisa mendatangkan baper. Ceritanya yang dekat dengan pengalaman hidup, namun terkadang juga bisa-bisa terlalu alay dan naif untuk bisa dialami secara nyata. Bagi yang terkesan berlebihan, cerita drakor bisa sekadar fantasi dan ilusi. Tidak jarang tampilan adegan romansanya yang begitu sempurna.
Jadinya, kita mungkin terbawa fantasi ini, membayangkan bisa seperti yang ada dalam cerita drakor. Apa mungkin aku akan bisa seperti itu ya? Diperlakukan orang yang dicinta dengan begitu so sweet? Harusnya pasanganku bisa bersikap seperti itu? Dan masih banyak lagi angan dan berandai-andai yang mungkin merasuki pikiran penikmat drakor.
Sensasi emosi inilah yang menurut sejumlah psikolog bisa didapati pada penyuka Drama Korea. Emosi campur aduk, sebelum akhirnya sampai pada ending cerita, baik bahagia maupun sedih, atau ngambang keduanya. Terlebih, secara psikologis manusia termasuk suka drama dan kejutan.
Akan tetapi, terlalu menyamakan pengalaman dan kehidupan nyata dan romansa drama, juga bisa berefek lain. Kita mungkin akan menjadi terlalu sensitif dan terbawa perasaan. Kondisi ini memang bisa sesaat, namun bukan tidak mungkin berlangsung lama dan menjadi biang ketidaknyamanan dan berujung kekecewaan.
Yuks, menikmati drakor dengan secara positif dan sehat!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H