[caption id="attachment_385094" align="aligncenter" width="300" caption="ibu selalu gak keberatan kalo di ajak narsis hehehe (dok.pri)"][/caption]
Sejak ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya 10 tahun yang lalu, perhatian ke 6 putra putrinya tercurah semua kepada ibu seorang. Usia beliau yang sudah mendekati 74 di tahun depan, tidak pernah menghalangi untuk tetap aktif berorganisasi, berkegiatan sosial serta mengurusi sekolah PAUD & TK yang hampir 9 tahun didirikannya. Kami sendiri di buat takjub dengan stamina beliau yang sangat fit dan selalu bisa menjaga kebugarannya. Setiap kami meminta supaya beliau mengurangi kegiatannya, jawabnya cukup singkat “semua kegiatan itu membuat ibu merasa sehat, karena dijalani dengan senang dan bahagia”.
Sudah lama ibu mempunyai keinginan untuk menghabiskan malam tahun baru dengan keluarga besar yaitu berkumpul bersama seluruh anak cucunya. Karena sudah 4 kali pergantian tahun, kakak saya yang sulung berada di luar negeri dalam rangka tugas. Tahun ini sudah kembali ke tanah air. Jadi ibu ingin mengajak putra putri dan cucunya yang di Jawa Timur bisa menikmati malam pergantian tahun baru nanti di Jakarta (di rumah kakak saya yang sulung). Keinginan itu sempat disampaikan kepada saya pada awal Oktober lalu. Karena saya salah satu putrinya yang mempunyai kegiatan tidak terlalu padat, jadi masih punya banyak waktu untuk di ajak ngobrol panjang lebar. Waktu itu saya hanya menganggap angin lalu, karena biasanya tiap akhir tahun pasti kami juga selalu menghabiskan waktu bersama tanpa harus direncanakan jauh-jauh hari.
Setelah pembicaraan itupun saya sudah lupa dikarenakan terbenam dengan rutinitas. Sampai ketika suatu saat ibu menelpon dan menanyakan kembali kesiapan kami tentang rencana menghabiskan malam tahun baru di Jakarta. Biasanya saya yang mewakili adik-adik yang tinggal di Surabaya untuk mengambil keputusan (tentunya setelah kami berdiskusi dahulu). Setengah terkejut tentunya, karena saya tidak terlalu menanggapi dengan serius waktu itu. Seperti kebiasaan di tahun-tahun baru sebelumnya, kami selalu menghabiskan waktu bersama meskipun tanpa rencana. Ketika saya coba tanyakan lagi keinginan ibu, ternyata beliau sangat berharap-harap sekali.
“Kita naik kereta api saja nduk supaya lebih santai. Keluarga Madiun yang ikut 7 orang. Surabaya berapa orang?” demikian ibu menjelaskan rencananya yang ternyata sudah di rancang sendiri secara diam-diam.
Akhirnya sayapun berjanji untuk berdiskusi dengan adik-adik. Itupun masih membutuhkan waktu beberapa hari karena adik saya semuanya bekerja. Jadi harus menyesuaikan jadwal mereka dan menyamakan waktu libur bersama. Sampai akhirnya sepakat kalau keluarga Surabaya yang ikut berjumlah 8 orang. Jadi totalnya adalah 15 orang. Saya sendiri kembali di hadang keraguan, karena untuk pemesanan tiket sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi. Apalagi dalam jumlah banyak. Tapi saya nurut aja ketika kakak saya minta data-data nama, tanggal lahir dan nomor ktp untuk syarat pembelian tiket kereta api.
Beberapa hari kemudian, jam 5 pagi saya menerima sms dari ibu. Satu hal yang biasa beliau lakukan yaitu hampir tiap pagi beliau selalu kirim sms hanya sekedar mengingatkan sholat subuh. Sms itu belum sempat saya buka, karena sudah disibukkan dengan aktifitas pagi yaitu menyiapkan sarapan dan seragam buat si kecil yang mau sekolah. Ketika semua urusan domestik rumah tangga mulai dari belanja sampai beres-beres rumah sudah selesai, saya baru ingat dengan sms ibu tadi.Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 9.
“Nduk, kirim lagi data-datamu yang kemarin ya. Soalnya ke hapus. Ibu nggak bisa pesen tiket kalo tidak komplet datanya. Sekarang ibu mau pesan ke stasiun.”
Deg….jantung saya hampir copot. Sejak jam 5 sms itu terkirim baru saya buka sekarang, berarti sudah 4 jam. Nomor telpon genggam ibu saya putar untuk mencari tahu informasi sebelum membalas sms nya. Tapi tidak nyambung alias mati. Sekali… Dua kali… Tiga kali… sampai 6 kali dan tidak satupun tersambung. Saya sudah panik dan bingung. Lalu saya coba telpon kakak yang rumahnya tidak jauh dari rumah ibu, langsung di angkat. Saya pun menanyakan keberadaan ibu sekarang, karena di telpon kok telpon genggamnya mati. Jawaban kakak cukup mengejutkan.
“Ibu dari pagi sudah antri di stasiun buat pesan tiket. Sudah aku larang, biar nanti aku aja yang beli. Karena beberapa hari ini semua pada sibuk kerja dan gak bisa di tinggal, jadinya ibu maksa untuk beli sendiri. Itupun sudah 3 hari bolak balik ke stasiun yang kurang ini kurang itu…”
Aku sempat tertegun mendengar cerita kakakku. Sambil membayangkan tubuh tua yang ringkih itu berjalan tertatih dengan semangatnya untuk bisa membahagiakan anak cucu mengajak berkumpul di akhir tahun baru. Sedangkan putra putrinya sibuk dengan pekerjaan, sampai tega membiarkan ibu melakukan pekerjaannya dengan sendiri.