Oleh. Dharmadumadi.
Sebagian besar kita yang hidup dalam era modernisasi ini, kita sulit menerima pikiran-pikiran yang sederhana. Pikiran kita begitu kompleks, njelimet dan tidak jarang kita sulit menemukan jalan pulang. Lantas pikiran kitapun kerap kali merasa tersesat. Kemudian, kita kehilangan pegangan hidup, karena masalah dan krisis datang bertubi-tubi dalam hidup kita, seolah tanpa henti. Namun, solusi tak kunjung datang menghampiri. Ibarat keluar dari mulut harimau, masuk lagi ke mulut buaya. Persoalan hidup seakan menghantam terus, tanpa memberi jeda.
Seringkali kita merasa kehilangan arah dan tujuan hidup yang jelas. Pegangan hidup seolah rapuh, dan begitu mudah lepas. Kita tidak lagi menemukan makna dari setiap peristiwa yang terjadi, dan bahkan dari apa yang sedang kita lakukan.
Kondisi seperti ini akan melahirkan kecemasan, takut dan penderitaanyang berkepanjangan. Kita merasa cemas dan takut atas apa yang akan terjadi di masa depan. Lantas, kecemasan inipun akan melahirkan tegangan dan penderitaan di dalam hidup kita. Pada akhirnya kita berhenti pada suatu tempat yang kita sebut depresi.
Kitapun kadang terbangun dan menyadari, bahwa pada saat kita berpikir berlebihan maka hidup ini menjadi begitu berat dan rumit. Kita menganggap hidup adalah perjuangan. Kita sibuk dengan membuat stempel baik-buruk serta benar-salah dalam hidup kita sendiri dan hidup orang lain. Hidup dengan pola seperti inilah, yang menjadikan kita sering merasa bingung dan cemas. Yang ujung-ujungnya, kita tidak hanya membuat penderitaan bagi diri kita sendiri, tetapi juga orang lain.
Jika kita masih mampu bertahan pada kesadaran kita, pada hakekatnya hidup bukanlah penderitaan ataupun perjuangan. Hidup adalah upaya untuk membuat keputusan setiap saatnya. Untuk hal ini, kita cukup menemukan kejernihan di dalam diri kita sendiri, lalu membuat keputusan dari kejernihan tersebut.
Dalam dialektik pengambilan keputusan tersebut, ada keputusan yang berdampak untuk diri kita sendiri, dan ada pula keputusan yang memberikan pengaruh pada hidup orang lain. Jika saja kita adalah seorang yang berpengaruh, seperti pejabat publik atau pemimpin sebuah organisasi, maka keputusan kita akan berpengaruh kepada hidup banyak orang. Kejernihan jelas amat diperlukan bagi seorang pemimpin organisasi disini, agar tidak berdampak buruk pada orang lain.
Kejernihan berpikir justru dapat kita peroleh, pada saat kita melepaskan pikiran itu sendiri. Kita akan mampu menyapu bersih segala bentuk pikiran yang muncul, dan kembali ke kesadaran akan keadaan diri kita disini dan saat ini. Kesadaran tersebut lalu menjadi dasar bagi jalan hidup kita kemudian.
Kesadaran semacam inilah, yang akan membentuk jati diri kita yang sejati. Ini adalah diri kita yang asli. Karena, kita bukanlah identitas sosial kita, status kita, atau pikiran serta perasaan kita sekalipun. Justru, pikiran kita itu tidak lebih dan tidak kurang, hanyalah sebuah ilusi yang bisa diubah dalam sekejap mata. Ketika semua pikiran, perasaan dan identitas sosial kita dilepas serta dihapus bersih, kita lalu bisa mencerap dan menyadari diri kita yang sejati.
Pada saat inilah, kita berada dalam kejernihan yang sesungguhnya. Kita lalu mampu memahami keadaan yang kita alami apa adanya. Dan, kita tidak lagi hidup dari prasangka ataupun kesalahan berpikir yang diajarkan kepada kita oleh orang lain.
Ketika pikiran kita menjadi jernih, kita juga bisa memahami hubungan kita dengan semua keadaan yang ada. Kita bisa memahami peran utama kita di dalam setiap peristiwa dan keadaan yang kita alami. Bahkan, ketika orang lain susah, kita bisa memahami peran utama kita, yakni untuk membantu mereka sesuai dengan kemampuan kita, bukannya menekan atau bahkan berkonspirasi dengannya.