[caption id="attachment_404201" align="aligncenter" width="500" caption="Asyik juga bersepeda motor keliling Danau Lapindo Sidoarjo"][/caption]
Sekitar 9 tahun silam, Kota Sidoarjo dikejutkan dengan musibah banjir lumpur panas. Banjir kali ini bukan banjir air biasa melainkan air yang bercampur lumpur panas yang keluar dari perut bumi.
Semburan lumpur panas yang diduga keras akibat usaha pengeboran milik swasta itu hingga kini masih menggoreskan duka yang mendalam.
Tak tanggung-tanggung, semburan lumpur panas yang semula hanya menenggelamkan Desa Renokenongo, Porong-Sidoarjo kini melanda ke beberapa desa di sekitarnya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo/BPLS) dan pihak perusahaan namun semburan makin meluas saja dan membuat resah warga desa-desa di sekitarnya.
Bila dilihat dari angkasa, meluasnya semburan lumpur itu tampak seperti danau. Lapindo Brantas Inc. sebagai perusahaan yang bertanggung-jawab atas musibah itu telah melakukan langkah-langkah yang semestinya. Antara lain dengan memberikan biaya ganti rugi atas bangunan (rumah dll) milik warga yang rusak (tenggelam) akibat bencana banjir lumpur itu.
Namun sebagian warga desa yang terkena musibah mengaku belum mendapat biaya ganti rugi sepenuhnya. Cara-cara santun dan damai (negosiasi) tak membuahkan hasil, hingga akhirnya mereka memilih aksi demonstrasi yang ditujukan kepada Lapindo Inc. dan BPLS yang intinya agar pelunasan ganti rugi segera dilakukan.
Hampir setiap tahun, terutama di musim hujan musibah lumpur panas Sidoarjo kembali terangkat ke permukaan. Beberapa hari yang lalu seperti di beritakan salah satu TV swasta, tanggul Danau Lapindo kembali jebol. Posisi rusaknya tanggul berada di titik 18 Desa Gempolsari, Tanggulangin-Sidoarjo.
Akibat rusaknya tanggul itu, puluhan rumah warga Desa Gempolsari menjadi tergenang air bercampur lumpur setinggi 30 sentimeter. Warga mulai mengeluh lagi.
Dari pemberitaan itu, mereka ingin agar segera meninggalkan desanya dan menempati rumah baru sementara uang pelunasan ganti rugi tak kunjung diterimanya. Nasib mereka menyedihkan karena tempat tinggalnya tak layak pakai akibat genangan air bercampur lumpur tadi.
Danau Lapindo ternyata tak hanya menggoreskan kisah sedih. Coba bila Anda melintas di Jalan Raya Porong, tempat Danau Lapindo berada, tak sedikit orang-orang yang berdatangan hanya karena “penasaran” ingin melihat lebih dekat seperti apa danau yang tiba-tiba ada itu.
[caption id="attachment_404207" align="aligncenter" width="400" caption="Warung di atas tanggul Lapindo"]

Tanggul dirancang sedemikian kokohnya dengan ketinggian tertentu hingga memungkinkan kendaraan dump truck bisa dengan leluasa lalu-lalang mengangkut bahan urukan untuk menambal bagian tanggul yang mulai rapuh (jebol).
Keadaan tanggul seperti ini malah dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk berkeliling danau dengan kendaraan roda duanya. Mereka nyatanya asyik-asyik saja saat melihat kemolekan Danau Lapindo.
Di atas tanggul juga tersedia warung-warung makanan, ya tak ubahnya sebuah tempat wisata saja. Mungkin di antara pengunjung itu ada yang “lupa” kalau danau ini telah menggoreskan duka yang dalam.
[caption id="attachment_404209" align="aligncenter" width="400" caption="Penasaran ingin melihat lebih dekat Danau Lapindo"]

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI