Pun demikian, ada yang memilih duduk bermalas-malasan atau tetap terlelap dalam selimut demi membenarkan keadaan. Apa yang didapat? hari berlalu, wawasan tidak bertambah, hati pun gundah.
Tidak ada untungnya menyalahkan keadaan. Toh, pada dasarnya waktu tetap saja maju melindas siapa saja yang malas. Mau duduk manis berharap perubahan atau bangun membuat perubahan? tinggal pilih saja.
Pilihan orang bisa berbeda dan terlepas dari apa yang dipilih, tentunya ada konsekuensi yang harus siap diterima.
Rasa malas mungkin saja lebih besar daripada keinginan untuk berubah. Tapi, kesengsaraan yang bakal diterima kedepan mampu membawa rasa penyesalan yang mendalam.
Oleh karenanya, berpikirlah akan setiap pilihan karena ada efek yang harus dipikul kelak. Malas tentu tidak seberapa dengan kehidupan yang melarat saat tubuh tak lagi kuat.
Masa muda seharusnya tidak untuk menarik selimut dan melamun sambil bermalas-malasan. Otot yang masih kuat, pikiran yag masih tajam, dan tenaga yang masih penuh sebaiknya dialihkan pada hal-hal yang bermanfaat.
Waktu terus berubah detik per detik, menit menuju jam, lalu hari berganti, tak terasa bulan sudah melompat menjadi tahun baru. Apa yang sudah dilakukan?Â
Rencanakan apa yang hendak dilakukan agar memiliki arah yang tepat. Jangan sekedar terbangun lalu kemudian terlelap dalam rutinitas yang sama.
Bukankah perubahan dilakukan dengan merubah kebiasaan? kalau waktu masih dihabiskan untuk hal-hal yang sama, itu namanya persamaan, bukan perubahan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H