Mohon tunggu...
MJK Riau
MJK Riau Mohon Tunggu... Administrasi - Pangsiunan

Lahir di Jogja, Merantau di Riau

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

"The Real Avenger Dream Team" STM?

27 September 2019   08:41 Diperbarui: 27 September 2019   08:55 137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber:eramuslim.com

Hari STM bersatu, muncul menjadi fenomena yang viral di dunia maya. Ada apa dengan anak-anak STM ? Anak-anak STM ini tiba-tiba menyeruak dalam kancah politik panas di negeri ini. 

Untuk pertama kali dalam sejarah poltik negeri ini, anak-anak STM bersatu membela kakak-kakaknya dalam demo mahasiswa di gedung DPR-MPR. Sungguh suatu fenomena yang mengagetkan sekaligus mengharukan. Kaget karena tiba-tiba mereka datang dengan suka cita, mengharukan karena mereka muncul dengan modal tekad dari hati nurani.

Ketika para mahasiswa sedang kesulitan melaksanakan aksi demo, karena halangan gas air mata, anak-anak STM ini datang dengan penuh semangat. Bagi mereka, anak-anak STM itu gas air mata mungkin dianggap mainan. Kalau dulu ada yang beranggapan anak-anak STM suka tawuran, maka pola mereka itu menjadi sangat efektif dalam menghadapi gas air mata. 

Namun anak-anak STM itu, juga tidak serta merta ikut demo. Mereka juga menahan diri untuk merusak mobil polisi atau bahkan mengingatkan semburan gas air mata, ketika maghrib tiba. Sungguh pemandangan yang membuat haru. Adakah yang salah dalam menata negeri ?

Ada satu hal yang menarik dari sisi pemberitaan atau pun sebutan atau apa pun namanya. Mereka anak-anak STM itu, meninggalkan ESEMKA. Padahal sebutan STM itu sudah lama tidak terdengar, saat ini sebutan yang resmi adalah SMK. ESEMKA bahkan pernah menjadi "Jargon" istimewa, kelompok anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan. 

Namun apakah anak anak STM itu merasa lebih nyaman, lebih bergengsi, lebih spesifik dengan STM dari pada ESEMKA ? Sulit mendeteksi idealisme anak anak muda ini. ESEMKA yang melambung tinggi, memang masih tidak lebih dari janji. Bahkan ada yang beranggapan SMK menjadi sekedar emblem untuk suatu hasil produksi. 

"Changan changan" setelah ESEMKA dipakai sebagai simbol kebangkitan, namun kemudian hanya digunakan untuk menempel emblem, mereka kemudian bergolak. Memang eksistensi bisa muncul karena sakit hati, empati, dan kompetensi, tetapi juga mungkin promosi.

Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri.

Mereka telah beraksi.

Sungguh suatu hal yang membuat trenyuh di hati.

Mereka lebih peduli atas masa depan negeri ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun