Pengumuman K-Reward menjadi hal yang dinantikan tiap awal bulan, mungkin bagi banyak kompasianer. Meski selalu mendapatkan nilai nominal yang tak besar, namun rasa penasaran itu selalu ada. Sebab rasa itu tak sepenuhnya berasal dari harapan mendapatkan nilai reward yang besar.Â
Apakah Yang Diharapkan Dari Menulis?
Dari sekian banyak rekan kompasianer, tentu dijumpai motif yang beragam akan kegiatan menulisnya di platform ini.Â
Ada yang memang hobi menulis hingga tiada hari baginya tanpa artikel, ada juga yang menulis secara ensidentil bertepatan dengan momen tertentu yang menarik baginya dan ada pula yang menulis untuk menjadi kesegaran ingatannya. Seperti kata salah seorang kompasianer senior, Pak Tjiptadinata Effendi yang pernah merespon pernyataan saya tentang konsistensinya dalam menulis.Â
"Supaya nggak cepat pikun," begitu jawab beliau.
Saya sendiri lupa kapan tepatnya mulai punya kegemaran menulis. Yang jelas, sejak April 2019 sudah ada hampir 160 artikel yang saya telurkan melalui Kompasiana. Eh, nggak seberapa ya..hehe. Dan ternyata menulis itu nagih. Meski kadang moody juga.
Reward, Motif Utama?
Pertama kali menulis, tak ada pikiran untuk mendapatkan reward. Wong saat itu saya juga nggak paham tentang begituan. Yang penting tulisan bisa tayang dan dibaca banyak orang.Â
Yak, dibaca sebanyak mungkin orang. Dan itu pula yang terpikirkan saat melihat pengumuman K-Reward.
Sebagaimana diinformasikan oleh pengelola, besar K-Reward dihitung berdasarkan sistem validasi Google Analytics (pageviews), bukan jumlah views yang ada di tiap konten. Yang masih jadi pertanyaan buat saya adalah, sebenarnya jumlah view aktual itu yang dihitung berdasarkan analisis K-Reward ataukah yang terpampang di tiap konten sih?
Dan saya pikir nggak ada salahnya juga jika mencantumkan jumlah total view dari keseluruhan konten aktual bersamaan dengan pengumumam K-Reward. Setidaknya agar para Kompasianer mengetahui tingkat keterbacaan riil artikel-artikel yang telah dibuat.Â