Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah menjadi sebuah anomali.
Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia berlomba-lomba mengadopsi budaya asing sebagai preferensi dalam kehidupan mereka, Suku Sasak di DusunMasyarakat adat Sade konsisten dalam memegang tradisi yang mereka warisi dari leluhur. Meskipun mereka terkenal dengan identitas tradisional, suku Sasak di Desa Adat Sade tetap mengadopsi teknologi sebagai penunjang kehidupan sehari-hari.
Pada kunjungan saya pada tanggal 19 Mei 2023, saya mencatat beberapa fenomena menarik yang layak dibagikan sebagai berikut:
Pertama, bangunan rumah suku Sasak di Desa Adat Sade memiliki desain unik dengan atap berbahan jerami dan dinding terbuat dari anyaman bambu, serta lantainya terbuat dari tanah yang dilumuri kotoran sapi/kerbau.Â
Terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat mengenai filosofi desain rumah ini, yang lebih menarik adalah komitmen mereka dalam mempertahankan arsitektur warisan leluhur. Hal ini menjadi sangat berbeda dengan sebagian besar arsitektur rumah di Indonesia yang telah mengadopsi desain modern.
Kedua, dalam tradisi pernikahan suku Sasak di Desa Adat Sade, terdapat peristiwa culik-menculik sebagai tahap awal. Menurut penjelasan Amak Azka, seorang warga lokal, melarikan anak gadis dari rumahnya hingga larut malam merupakan sebuah pesan kepada keluarga gadis bahwa si penculik berniat untuk menikahi gadis tersebut.Â
Beberapa hari setelahnya, si penculik mengutus keluarganya untuk memberitahukan lokasi sang gadis sekaligus menyepakati ikatan pernikahan dengan keluarga korban.Â
Tradisi unik ini menjadikan suku Sasak di Desa Adat Sade sebagai satu-satunya di dunia yang memiliki tradisi seperti ini. Fenomena ini patut dihargai dan diabadikan sebagai sebuah warisan budaya yang berharga.
Ketiga, produk keterampilan kain tenun di Desa Adat Sade memiliki desain motif batik yang kaya akan makna. Salah seorang penenun kain songket suku Sasak di Desa Adat Sade menjelaskan bahwa beberapa motif yang mereka tenun mengandung makna seperti "cinta kepada orang tua" dan "cinta kepada pasangan". Motif yang menarik perhatian saya adalah motif bernama "Subhanale".Â
Di balik namanya, terdapat sebuah kisah yang dalam. Konon, saat menciptakan motif tersebut, sang ibu penenun merasa sangat lelah, namun tetap melanjutkan hingga selesai menjadi sebuah kain tenun yang indah.Â
Pada dasarnya, ia hendak mengucapkan "Subhanallah", tetapi karena tidak fasih berbahasa Arab, yang terucap dari lisannya adalah "Subhanale". Kejadian ini menjadikan motif "Subhanale"sebagai salah satu motif unggulan di Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat.Â