Kebenaran ini hanya bisa dihayati oleh mereka yang sadar. Mereka yang tidak sadar akan mendengarnya, namun mereka tidak menghayatinya. (Lao Tze)
Kebenaran menjadi sesuatu yang sangat mahal di dunia ini ketika manusia mulai menciptakan kebenaran-kebenarannya sendiri sesuai dengan isi kepalanya, kemauan hatinya, dan pastinya kebutuhan yang menguntungkan dirinya sendiri. Di luar kepentingan dirinya sendiri adalah sebuah pengingkaran pada kebenaran. Dalam perjalanan peradaban yang terus mengalir deras ini, kebenaran menjadi jajanan swalayan yang bisa diambil sesuka hati. Ironis.
Mulut tercipta sejatinya untuk kebaikan yang mengarahkan manusia pada kebajikan diri dan sesama sehingga dunia membangun peradaban penuh kasih dan harapan saling menopang dalam untung dan malang, suka maupun duka. Pada mulut pula sesungguhnya bersandar keberlangsungan kebenaran yang terus mengalir menelusuri setiap hati dan budi manusia di dunia ini membentuk kesatuan tentang pemahaman harkat dan martabat manusia yang harus selalu dijaga dan diusahakan.
Dunia menangis, peradaban porak poranda, semesta termenung lesuh, menjadi isyarat mulai terlelapnya kebenaran dalam gelapnya akal budi dan hati manusia. Aliran kata-kata yang menjerumuskan terus-menerus membanjiri dunia yang tak bisa dibendung lagi oleh moral, etika, dan keyakinan luhur. Euforia dunia tumpah ruah dalam kebrutalan sadis pada sesama, kebohongan yang tak mengenal malu, dan kerakusan yang menggerus nurani demi kebahagiaan dan kebanggaan semu belaka.
Kesadaran untuk kebenaran terkadang harus menembus tembok kebebalan manusia, yang mempercayai sesuatu yang menyesatkan sebagai kebenaran. Kesadaran untuk kebenaran juga harus menangkis silat lidah yang bermain dengan kata-kata seolah-olah kebenaran telah disampaikan dari dalil-dalil yang tak terbantahkan. Kesadaran itu harus segera lahir dan tumbuh berkembang dalam ketulusan dan kemauan yang jujur pada kebenaran yang haikiki.
Mau mendengarkan banyak hal, mau membaca berbagai sumber belajar kehidupan, mau melihat kenyataan dunia, mau terjun dalam keterlibatan moral dan sosial, adalah bentuk rasa rendah hati manusia untuk menyerap, merenungkan, dan menginternalisasikan kebenaran dalam seluruh sanubari. Rendah hati untuk belajar pada dunia merupakan modal dasar bagi manusia menuju kebenaran dalam penghayatan dan pengolahan batin.
Tanpa proses ini, yang terjadi adalah bualan tentang kebenaran yang merangkai cerita dongeng belaka. Tanpa kesadaran yang hakiki, kebenaran hanya menjadi teori dan dengan sendirinya pergi tanpa ada bekas dalam tindakan dan perilaku. Kebenaran tanpa penghayatan dan implementasi sesungguhnya mati. Mari membangun kesadaran diri dengan rendah hati, percayalah semesta dan Pencipta akan menghantarkan kita pada realita kehidupan yang bijak dan penuh kebajikan. Kebenaran tak boleh pergi.
@Menulis Makna: adalah sebuah uraian untuk mencecap kehidupan yang begitu agung dan mulia ini. Hidup ini penuh dengan makna sebagai kristalisasi pengalaman dan refleksi untuk menjadi inspirasi bagi diri sendiri, sesama, dan semesta. Menulis Makna akan menjadi sejarah perjalanan makna kehidupan yang selalu abadi, tidak hilang ditelan badai kehidupan yang merusak peradaban manusia. Menulis Makna, menulis kebijaksanaan hidup.Â