Mohon tunggu...
Marsha Ranti
Marsha Ranti Mohon Tunggu... -

sederhana

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

LGBT Juga Manusia

26 Januari 2018   16:04 Diperbarui: 26 Januari 2018   16:22 476
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Beberapa minggu belakangan ini, topik LGBT kembali menghangat karena pembahasan RUU KUHP di DPR. Setiap pagi saya buka beberapa media online, setidaknya ada 1 berita yang membahas perkara ini. Herannya, kenapa statement yang dibuat itu selalu mendiskreditkan LGBT?

Saya melihat bahwa permasalahan LGBT ini telah berkembang menjadi fenomena sosial yang, sesuai dengan sifat orang indonesia, dibumbu-bumbui dengan hal-hal yang berlebihan. Tidak hanya berhenti sampai disitu, orang Indonesia pun juga lebih suka memberikan opini ketimbang data atau sumber yang bisa dipercaya. Hasilnya adalah brainwash.

LGBT menurut science

Perlu diketahui bahwa pada tahun 1973, LGBT dicabut dan tidak lagi dianggap sebagai kelainan jiwa oleh American Psychiatric Association (lihat ). LGBT juga bukan merupakan penyakit menular. Kenapa saya katakan bukan merupakan penyakit menular?menular itu berarti sesuatu yang di-transfer. Ada media untuk menularkannya. 

LGBT?apa yang memindahkan LGBT dari satu orang ke orang yang lain?sentuhan kulit?makan / minum dari gelas dan piring yang sama?bernafas menggunakan udara yang sama?

LGBT adalah "sesuatu" yang ada didalam manusia yang terlahir dengan LGBT itu sendiri. Anda memang terlahir seperti itu. Kalau dianalogikan, ada seorang yang genius. Orangtuanya memang pintar dengan IQ diatas rata-rata. Apabila anak yang genius ini berteman dengan sekumpulan orang bodoh, kegeniusan itu tidak akan menular. 

Kenapa?karena orang-orang bodoh ini tidak terlahir menjadi genius, tidak perduli seberapa susahnya anak genius ini mengajari teman-temannya tersebut untuk menjadi genius seperti dirinya. Sebaliknya, anak yang genius ini juga tidak akan bisa menjadi bodoh karena dia sudah dilahirkan untuk menjadi seorang genius. 

Kalau mau membaur dengan teman-temannya yang bodoh, yang bisa dilakukannya adalah berpura-pura bodoh. Begitu pula LGBT, mereka tidak akan "menulari" orang-orang disekitarnya menjadi LGBT kok.

Saya tidak akan berpura-pura bodoh dengan menutup mata dari kenyataan bahwa diluar sana memang ada beberapa LGBT yang sukanya "belokin" orang. Saya pribadi tidak setuju dengan apa yang dilakukannya karena akibat perbuatan sekelompok orang inilah yang menyebabkan orang-orang itu jadi berfikir bahwa LGBT itu menular.

 Tapi percayalah, LGBT itu tidak menular karena itu bukan sesuatu yang bisa berpindah. Begitu juga dengan LGBT yang memacari anak dibawah usia dewasa. Ini sangat berbahaya mengingat anak yang belum dewasa sedang berada di tahap pencarian jati diri, termasuk juga pencarian jati diri sexualnya. 

Apabila anak-anak yag masih berada dalam kawasan abu-abu ini dipaksa untuk dibentuk menjadi LGBT dan tidak diberikan kesempatan untuk meng-explore ketertarikan sexualnya pun juga tidak baik. Saya pribadi menentang keras kedua hal ini. Tapi sekali lagi, jangan menyamaratakan kaum LGBT seperti itu semua karena buktinya diluar sana banyak yang tidak seperti itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun