Pidato AHY terbukti menarik perhatian. Tanggapan, komentar dan prediksi pun berseliweran. Ini menandakan bahwa AHY sudah mampu menaikkan levelnya menjadi tokoh nasional yang diperhitungkan.Â
Walau ada yang nyinyir mengatakan bahwa pidato itu agak memaksa karena seolah mensejajarkan AHY dengan Capres yang sedang bertanding.Â
Ya, karena ada yang melihat pidato AHY seolah mau menyaingi Pidato Kebangsaan Prabowo dan Konvensi Kerakyatan Jokowi.Â
Menurut penulis, walau ada unsur tersebut di atas, harus diakui, Demokrat pintar memanfaatkan momentum. Dan sudah tentu hal itu sah - sah saja. AHY memang harus membuktikan diri bahwa dia masuk politik bukan karena bayangan Bapaknya. Waktu dan sejarah lah yang akan membuktikan hal itu.
Pernyataan AHY yang menjadi ajang diskusi, selain titipan pesan kepada calon presiden yang anonim, juga komentarnya mengenai Demokrat tidak mendapatkan keuntungan dalam kontestasi Capres kali ini.Â
Suatu pernyataan yang terbuka dan multitafsir.Â
Kelompok seberang mengklaim pernyataan ini sebagai ketidaknyamanan PD dengan koalisi yang ada kini.Â
Sementara kelompok sekutu memanfaatkan ini untuk menyerang, dengan menuduh ini adalah akibat ulah pemerintah Jokowi yang tidak mau mendukung batas Threshold pengajuan Capres 20 % yang dianggap terlalu tinggi. Batasan ini menyebabkan partai menengah tidak bisa mencalonkan Capres mereka sendiri.
Walaupun ini bukan pernyataan pertama kali mengenai kekhawatiran akan hal tersebut, tapi karena secara khusus diulang kembali oleh AHY, maka mau tak mau mencuri perhatian kawan dan lawan politik Demokrat.