Kutinggalkan Ibu sendiri di ruangan itu, Aku harus mencari keberadaan Ayah. Entah berapa kali ku hubungi nomor hp Ayah, tapi tidak tersambung.Â
Aku harus pulang ke rumah untuk mengambil motor, agar langkah pencarian ku lebih panjang. Ayahku memang tak mau membelikan ku mobil, alasannya Aku masih sekolah, padahal teman-temanku banyak yang sudah punya mobil.
Setelah sampai di rumah, kuceritakan kejadian yang menimpa Ibu pada pembantu rumah Kami, Bibi itu menangis mendengar ceritaku. Aku memintanya untuk menjaga Ibu, karena Aku harus mencari Ayah untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya.
***
Malam semakin larut, namun Aku masih bingung ke mana harus mencari laki-laki yang membuat Ibuku menderita.
Entah ke mana mau kucari Ayah, bagaimana mungkin setega itu Ayah meninggalkan Ibuku yang sangat mencintainya.Â
Ku kendarai motor ku kesebuah club malam, setidaknya Aku bisa mencari ketenangan Di sini sesaat.Â
Segelas greensand ku pesan, untuk menemaniku dalam kekacauan hati ini. Sambil menikmati music dan minuman ditanganku, Otakkuterus berpikir, kemana harus Ku cari Ayah? Aku tak punya petunjuk apapun.
Saat benakku masih berselimut dengan pertanyaan-pertanyaan, tiba-tiba seorang laki-laki datang sambil membawa segelas minuman, dan duduk di kursi sebelahku.
Wajahnya yang brewokan, serta matanya yang tajam bak elang siap menerkam mangsanya. Tubuhnya yang tak begitu kekar, seta jemari tangannya yang dihiasi cincin, aura wajah nya tak bersahabat. Mungkin usianya, lebih kurang sama dengan Ayahku.
"Kamu Rio kan?"Â