Sewaktu remaja ketika masih tinggal di Padangsidimpuan, kota berukuran sedang di Sumatera Utara, saya menganggap batik identik dengan pakaian "orang Jawa". Pada masa sekitar tahun enam puluhan itu, masih sangat jarang orang memakai baju batik di kota tempat saya tinggal.
Seingat saya, pada masa itu kalau menghadiri berbagai acara seperti resepsi perkawinan yang digunakan adalah "baju biasa", misalnya kemeja tangan panjang berwarna polos. Kalau ada acara di sekolah, para guru pun tidak memakai baju batik.
Munculnya anggapan di pikiran saya, bahwa batik pakaian orang Jawa karena di kota tempat tinggal saya itu hanya warga kota yang berasal dari etnik Jawa lah yang memakai baju batik.Â
Pakaian batik yang mereka gunakan sangat berbau Jawa dengan motif lurik lurik dan penutup kepala yang mereka gunakan, yaitu blangkon juga bermotif batik.
Sesudah tahun tujuh puluhan dan sudah tinggal di Medan, saya melihat baju batik sudah semakin banyak digunakan dan coraknya pun sudah beragam. Corak beragam itu sekaligus meninggalkan kesan bahwa batik sangat identik dengan Jawa.
Para pejabat pun saya lihat mulai banyak yang menggunakan batik. Pada masa itu terkenal istilah "Batik Ali Sadikin", walaupun saya tidak tahu persis seperti apa corak atau motif batik yang digunakan Gubernur DKI itu. Lama kelamaan baju batik semakin banyak digunakan dan kemudian menjadi busana resmi.
Pada berbagai surat undangan dengan jelas tertera ,pakaian yang digunakan pada acara itu adalah batik. Beragam corak dan warna batik juga muncul dengan berbagai motif yang semakin menarik.Â
Sangat cantik terlihat batik dengan motif lokal seperti motif "ulos", yaitu kain adat yang identik dengan suku Batak. Begitu juga halnya batik dengan bercorak Melayu sangat cantik dipandang mata ketika dipakai.
Para pejabat maupun para pengusaha banyak yang mengenakan batik sutra yang harganya jutaan.
Tidak dapat dimungkiri bahwa semakin massalnya pemakaian baju atau kain batik itu tidak dapat dilepaskan dari adanya kemauan pemerintah untuk menjadikan batik sebagai pakaian nasional.
Pemerintahan Suharto juga sangat giat berusaha memperkenalkan batik pada tingkat internasional.