Kemendikbudristek melalui Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022 mengatur tentang pakaian seragam sekolah bagi peserta didik jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Aturan ini menuai berbagai respon, pro dan kontra, dengan fokus utama pada kaitannya dengan keragaman dan kritik.Â
Artikel ini bertujuan untuk mengulas aturan seragam sekolah berdasarkan Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022, manfaat seragam sekolah dalam kaitan dengan keragaman, serta kritik Ivan Illich terhadap seragam sekolah.
Aturan Seragam Sekolah dalam Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022
Peraturan Menteri ini mengatur tentang seragam yang terdapat dalam pasal satu disebutkan sebagai berikut:Â
Pakaian Seragam Nasional adalah pakaian yang dikenakan pada hari belajar oleh Peserta Didik di Sekolah, yang model dan warnanya sama berlaku secara nasional.
Pakaian Seragam Pramuka adalah pakaian yang dikenakan Peserta Didik pada Hari Pramuka atau hari tertentu yang ditetapkan Sekolah.
Pakaian Seragam Khas Sekolah adalah pakaian seragam bercirikan karakteristik Sekolah yang dikenakan oleh Peserta Didik pada hari tertentu.
Mengacu pada poin tiga, sekolah juga dapat mengatur pakaian seragam lainnya sesuai dengan ciri khas sekolah, seperti:
Pakaian Seragam Harian
Pakaian Seragam Olahraga
Pakaian Seragam untuk Kegiatan Tertentu
Pengaturan seragam dalam Permendikbud No. 50 Tahun 2022 memiliki tujuan yang jelas untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mempromosikan nilai-nilai nasionalisme, kebersamaan, dan persaudaraan di antara peserta didik. Dengan menggunakan seragam yang sama, siswa dari berbagai latar belakang sosial dan budaya akan merasa lebih terhubung sebagai bagian dari satu kesatuan, memperkuat rasa persatuan di antara mereka.Â
Selain itu, pengaturan seragam ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesetaraan di antara peserta didik, dengan memberikan mereka kesempatan untuk merasakan bahwa status sosial ekonomi orang tua tidak mempengaruhi perlakuan di sekolah. Melalui seragam, perbedaan status sosial dapat diminimalisir, sehingga memperkuat persaudaraan di antara siswa. Selain itu, pengaturan seragam juga diharapkan dapat meningkatkan disiplin dan tanggung jawab siswa, karena adanya seragam sekolah dapat menjadi salah satu bentuk tanggung jawab yang harus dipatuhi dan dijaga dengan baik. Dengan demikian, pengaturan seragam dalam Permendikbud No. 50 Tahun 2022 memiliki tujuan yang luas, mencakup aspek-aspek penting dalam pembentukan karakter dan lingkungan pendidikan yang inklusif.
Manfaat Seragam Sekolah dalam Kaitan dengan Keragaman
Seragam sekolah sering dikaitkan dengan beberapa manfaat, di antaranya:
Menanamkan rasa persatuan dan kesamaan: Seragam dapat membantu menghilangkan perbedaan latar belakang sosial ekonomi, ras, agama, dan budaya, sehingga mendorong rasa persatuan dan kesetaraan di antara siswa.
Meningkatkan disiplin: Seragam dapat menjadi pengingat bagi siswa untuk berperilaku disiplin dan mengikuti aturan sekolah.
Membangun identitas sekolah: Seragam dapat menjadi identitas pembeda bagi sekolah dan meningkatkan rasa bangga siswa terhadap sekolahnya.
Meningkatkan keamanan: Seragam dapat membantu memudahkan identifikasi siswa dan orang luar yang tidak berkepentingan di lingkungan sekolah.
Namun, dalam konteks keragaman, perlu diperhatikan bahwa:
Seragam tidak boleh menjadi alat untuk menekan atau mendiskriminasi siswa: Aturan seragam harus dibuat dengan mempertimbangkan keberagaman budaya, agama, dan kepercayaan siswa.
Siswa harus memiliki ruang untuk mengekspresikan diri: Sekolah dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri melalui aksesoris, gaya rambut, atau atribut lainnya, selama tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Seragam harus terjangkau dan mudah diakses: Sekolah harus memastikan bahwa seragam mudah dibeli dan tidak membebani orang tua siswa.
Kritik Ivan Illich terhadap Seragam Sekolah
Ivan Illich, seorang filsuf dan kritikus pendidikan, mengemukakan beberapa kritik terhadap seragam sekolah, di antaranya:
Seragam sekolah melanggengkan budaya konsumerisme: Seragam yang sering diganti modelnya mendorong siswa untuk mengikuti tren dan membeli seragam baru, yang dapat membebani orang tua dan memicu budaya konsumerisme.
Seragam sekolah membatasi kreativitas dan individualitas: Seragam yang seragam dapat membuat siswa kehilangan kesempatan untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan kreativitas mereka.
Seragam sekolah tidak efektif dalam meningkatkan disiplin: Illich berpendapat bahwa disiplin tidak datang dari seragam, tetapi dari sistem pendidikan yang baik dan guru yang kompeten.
Kesimpulan
Aturan seragam sekolah dalam Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022 memiliki tujuan yang baik untuk menanamkan rasa persatuan dan meningkatkan disiplin. Namun, perlu diingat bahwa seragam tidak boleh menjadi alat untuk menekan atau mendiskriminasi siswa. Sekolah harus memastikan bahwa aturan seragam dibuat dengan mempertimbangkan keberagaman budaya, agama, dan kepercayaan siswa, serta memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri. Kritik Ivan Illich terhadap seragam sekolah perlu dipertimbangkan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia.
Perdebatan tentang seragam sekolah kemungkinan akan terus berlanjut. Penting untuk melakukan diskusi yang terbuka dan konstruktif dengan melibatkan semua pihak terkait, termasuk siswa, orang tua, guru, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk menemukan solusi terbaik yang menyeimbangkan antara persatuan, disiplin, keragaman, dan kreativitas dalam pendidikan. ***
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI