KENAPA ?
SESUNGGUHNYA ANAK ADALAH ANUGERAH YANG DIBERIKAN OLEH YANG Maha Kuasa dan kita harus bersyukur dengan apapun yang diberikan pencipta untuk kita. Setiap anak ada rizkinya sendiri dan Allah sudah menetapkan jalan hidup setiap makhluk yang bernyawa. Namun bukan berarti bahwa kita tidak boleh punya rencana dan keinginan dalam kehidupan kita dan berserah diri juga bukan berarti kita menyerah pada keadaan. Manusia juga boleh merencanakan hidup masa depannya. Itu merupakan salah satu wujud dari yang namanya usaha.
Rumah tangga mempunyai pernak-pernik yang begitu komplit termasuk dalam permasalahan hubungan orang tua yang muaranya pada keharmonisan rumahtangga. Ada beberapa fase dalam rumah tangga yang masing-masing nya membutuhkan kerjasama, pengorbanan, kiat dan niat yang solid dari anggotanya dalam mengatasi setiap problema yang timbul.
Fase lima tahun pertama pernikahan adalah saat dimana suami istri baru belajar malakoni peran berkeluarga. Semuanya serba baru. Semangat baru, pola hidup baru, baru punya anak, baru mengalami bagaimana mendidik, mengasuh, mengikuti perkembangan anak, baru tahu bagaimana kerjsama dengan pasangan hidup. Yang pasti semua pengalaman baru itu mengasyikkan dan melenakan.
Memasuki fase selanjutnya, lima tahun kedua, kejenuhan mulai mendatangi pasangan terutama para suami. Hal-hal yang sudah biasa dan tidak baru lagi membuat mereka mulai tidak setia lagi kepada rutinitas rumah tangga. Tapi bagaimana denga istri? Mereka tentu harus tetap setia menjalankan kewajiban sepenuhnya, kalau perlu 200 %.
Kehidupan dimulai pada usia empat puluh. Itu pendapat para ahli kerumahtanggaan. Dari pengamatan di banyak rumah tangga, itu memang benar adanya. Itu juga adalah puncak kejenuhan seorang anggota rumah tangga, terutama lagi, sang suami. Puncak pengalamannya berumahtangga. Masa puber kedua biasanya dimulai saat ini. Kemesraaan yang hilang, kemanjaan yang selama ini terabaikan karena kesibukan urusan dalam dan luar rumah, perhatian yang dirasa sangat berkurang sekali. Itu sebenarnya berasal dari kedua belah pihak. Tetapi apa yang sering ditemui adalah, istri didakwa sebagai sumber kesalahan bila sesuatu yang tidak diinginkan tejadi.
Nah dalam situasi yang serba jenuh itulah, sering terjadi penyelewengan oleh pihak/ pelaku dalam rumahtangga, istri ataupun suami atau dua-duanya sekaligus. Ada toh. Kalau saja seseorang menikah diusia 25 tahun, berarti di usia 40-an mestinya mereka sudah mempunyai anak-anak yang tidak bayi lagi. Anak-anak sudah dapat diatur untuk hidup mandiri, tidur, mandi, belajar, main sendiri. Sehingga ada waktu senggang bagi orang tua untuk bersama, berdua saja tanpa direcoki anak kecil lagi.
Ada beberapa pengalaman teman dekat yang usia mereka sudah diatas lima puluhan tahun. Suami sudah menjalani masa pensiun dan tinggal di rumah, sendiri di siang hari sementara istri masih dalam usia kerja dan tentu saja pulang sore hari. Kesepian berada di rumah di siang hari itu membuat sang suami selalu menanyakan kapan istri mau mengajukan pensiun untuk menemaninya tinggal di rumah selama 24 jam. Itu adalah dilemma. Sementarakeuangan keluarga masih memerlukan turun tangan istri untuk bekerja, dilain pihak, kebutuhan pasangan untuk tidak sendirian seharian harus pula menjadi bahan pertimbangan.
Bagaimana dengan pasangan yang punya bayi lagi diusia empat puluhan? Pengalaman ini akan menjadi sangat berat bagi seorang istri. Karena biasanya setelah istirahat melahirkan lebih kurang 10 tahun, punya bayi lagi, menyibukkan dengan urusan 24 jam nonstop lagi. Selain faktor usia dimana stamina sudah mulai menurun, itu juga akan membuat si istri benar-benar kehabisan energi. Apalagi bila ia juga seorang wanita karir. Sementara sang suami yang berada di puncak karir dan sudah jenuh dengan urusan anak-anak , akan tetap saja dengan ketidakpeduliannya yang penuh terhadap sang bayi dan istri. Tentu saja kehidupan di luar rumah akan lebih menyenangkan dan menggairahkan baginya. Tinggallah istri dengan segenap kewajiban yang harus dijalankannya dengan penuh rasa tangung jawab.
Itulah sebabnya seorang ibu yang sudah punya anak, sebaiknya tidak punya bayi lagi setelah usia paling lambat 40 tahun. Berencana tidak punya anak lagi di usia lebih awal yaaa lebih baik lagi. Kenapa ?Yaah, kesimpulannya karena beberapa hal di bawah ini :
1.Menjaga kesehatan si ibu
2.Menjaga kemesraan suami istri, karena punya waktu lebih banyak untuk saling perhatian
3.Menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga
4.Memfokuskan perhatian, biaya dan kasih sayang untuk anak yang sudah remaja
5.Menikmati hari tua tanpa harus mengeluarkan biaya pendidikan bagi anak yang masih kecil.
Sekian, semoga bermanfaat dan trims.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI