Suatu ketika anak-anak kog keceplosan kata-kata kasar yang sebenarnhya amat jarang ia lontarkan, bahkan amat mungkin tidak melontarkan kata-kata itu kepada ibunya. Sebab, kedekatannya kepada saya selaku ayahnya tak lebih baik kepada ibunya. Tapi entah, ada problem apa dengan teman-temannya kog seketika itu ia membentak ibunya, "mamak iki, dipanggil kog gak denger-denger!".
Sontak saja, mendengar kata-kata ketus itu, ibunya sedikit marah, dan balik mengatakan bahwa ucapan itu tidak sopan dilontarkan kepada ibunya. Seketika itu pula, kata-kata sedikit kasar keluar dari lisan istriku. Kenapa tiba-tiba sang ibu dan anak yang biasanya rukun kog tiba-tiba mengeluarkan ucapan yang kurang baik di dengar oleh tetangga. Tak kusangka, anak yang seusia SD ini sudah berani membentak ibunya. Ada apa ini? Apakah terlalu sering ia di-bully teman-temannya di sekolah? Sepertinya tidak. Karena, anak sulung kami cukup berani dan tak lembek jika berhadapan dengan anak-anak yang kurang baik meski laki-laki sekalipun.
Entahlah, saya cuma mengelus dada, kenapa anak yang biasanya baik-baik saja kog tiba-tiba sentimen dan marah-marah pada ibunya.
Saya yang kebetulan di dekatnya hanya bisa memberikan pesan padanya, "Nak, bagaimanapun ibumu tetaplah ibu. Jangan engkau membentak meskipun kadang kesel karena ibu sering marah-marah karena kebandelanmu. Meskipun engkau kecewa dengan ibu, ingatlah bahwa ketika masa mengandungmu selama sembilan bulan sepuluh hari ibu sudah sangat susah, capek dan lelah. Di tambah lagi ia tetap mengurus adikmu yang juga butuh disayang. Pernahkah kau tahu bahwa melahirkanmu ibu bertaruh antara hidup dan mati. Jika ibu selamat, bisa jadi engkau yang tiada. Atau sebaliknya, boleh jadi engkau yang selamat ibu yang akan tiada.
Mendengar pesan ayahnya, diapun tertegun, diam beribu bahasa. Terlihat penyesalan dalam dirinya. Dan alhamdulillah efek lingkungan yang merusak dapat kami batasi dengan bimbingan secukupnya.
Tapi selaku orang tua, saya tetap memaklumi bahwa anak-anak memang kejiwaannya masih labil. Apalagi kadangkala tanpa sepengetahuan saya ia menonton acara TV yang berisi pem-bully-an. Kata-kata penuh umpatan.
Pernah saya memberikan peringatan, jika suatu saat TV akan saya gadaikan daripada melihat tontonan yang tidak baik. Kadang saya berfikir apa lebih baik tak usah memiliki televisi jika akibatnya seperti ini. Masih bagus jika disaat menonton orang tua bisa mendampingi dan memberikan pencerahan, repotnya jika saat tak ada di rumah, dampaknya sangat berbahaya bagi pembentukan kepribadian mereka.
Begitupula ketika ibu memarahi anaknya, tentu ada sebab kesalahan yang dilakukan anak. Ibu merasa berhak memperingatkan dan memperbaiki kesalahan mumpung masih di usia dini. Tentu marah inipun dalam koridor kontrol diri dan tetap memegang prinsip psikologis anak.
Ibu tetaplah ibu, dalam keseharian kita acapkali sang ibu terlihat marah. Tentu karena anak-anak yang seringkali membandel. Membantah jika dimintai tolong dan tak mau mendengar jika diberikan saran yang baik. Kecewanya lagi jika apa yang dilakukan mereka tak berbuah manis. Minimal rasa syukur, pujian dan senyum kepada ibu mereka karena telah melakukan pekerjaan di rumah.
Memang, ibunya anak-anak lebih banyak di rumah, daripada mengurus pekerjaanya, karena ia sudah mewakilkan pada guru lain di sekolah. Sedangkan kerelaannya di rumah karena anak-anak lebih banyak membutuhkan perhatiannya.
Itu pula yang saya sampaikan, bahwa apalah artinya pekerjaan di luar dengan uang yang banyak, jika anak-anak terlantar. Kadang, orang tua yang sudah perhatian, mencurahkan kasih sayangnya sepenuh hati saja masih mendapatkan perlakuanyang kurang baik dari anak-anaknya. Apalagi jika sang ibu jarang sekali memperhatian perkembangan anak-anaknya. Tentu akibatnya dapat diduga, anak melawan dan bertindak kasar karena merasa kurang mendapatkan didikan dan kasih sayang.