Mohon tunggu...
Mahir Martin
Mahir Martin Mohon Tunggu... Guru - Guru, Aktivis dan Pemerhati Pendidikan

Penulis: Satu Tahun Pembelajaran Daring, Dirayakan atau Disesali? (Penerbit Deepublish, 2021); Hikmah Pandemi Covid-19 Relevan Sepanjang Masa (Guepedia, 2021); Catatan dari Balik Gerbang Sekolah untuk Para Guru (Guepedia, 2022); Motto: Reflection Notes: Ambil hikmahnya...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kedepankan Persamaan dalam Menyikapi Ibadah Kurban

1 Agustus 2020   10:41 Diperbarui: 1 Agustus 2020   10:43 97
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO) via kompas.com

 

Kita masih dalam suasana Kurban. Hari ini adalah hari ke-2 perayaan Hari Raya Idul Adha. Seperti kita ketahui, dalam agama Islam, hari raya kurban di rayakan 4 hari. Hari pertama lebaran dan 3 hari berikutnya disebut hari tasyrik.

Pada hari-hari itu, kaum muslim masih diperkenankan untuk memotong hewan kurban. Pada hari-hari itu juga agama mengharamkan umatnya untuk berpuasa. Tujuannya adalah untuk merayakan hari raya, harinya untuk makan dan minum.

Kurban Sebagai Bentuk Ibadah

Kemarin kami memotong hewan kurban di rumah pemotongan hewan (RPH). Ada ratusan hewan yang berada di RPH. Hewan kurban itu mengantri satu persatu untuk menunggu giliran. Para penjagal pun sudah siap dengan pisau tajamnya.

Pemandangan itu mengingatkanku akan adegan di film-film tentang pembunuhan masal. Dimana di adegan tersebut manusia dikumpulkan untuk di eksekusi.

Pembunuhan masal sebenarnya bukan hanya terjadi di film. Sejarah kelam dunia pernah mencatat peristiwa pembunuhan masal yang terjadi di Eropa dengan adanya peristiwa holokaus.

Peristiwa holokaus adalah peristiwa pembunuhan masal kaum Yahudi yang dilakukan oleh Nazi Jerman dibawah pimpinan Adolf Hitler. Menurut berita ada sekitar 15 ribu orang yang dibantai di kamp holokaus setiap harinya.

Para penganut paham Islam liberal mungkin saja berpikir bahwa penyembelihan hewan kurban secara masal di hari raya kurban juga merupakan salah satu bentuk pembunuhan masal. Mereka bisa saja berpikir bahwa lebih baik uang yang dikumpulkan untuk kurban dialihkan saja ke hal-hal positif lain, pendidikan misalnya, pasti akan lebih bermanfaat.

Selain itu, kritik pedas juga diberikan oleh para pecinta hewan. Bagi mereka pemotongan masal hewan adalah tidak manusiawi dan akan mengganggu ekosistem lingkungan. Belum lagi dampak psikologis yang akan muncul, terutama pada anak-anak yang melihat kegiatan ini.

Apapun kritik yang diberikan, ibadah kurban tetaplah ibadah yang penting bagi umat muslim. Dilema memang. Para intelektual muslim pun menjawab semua kritik yang diberikan dan kritik yang mungkin akan timbul dengan mengedepankan hikmah dari ibadah kurban itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun