Ternyata, tidak ada satu aktivitas manusia di dunia ini yang berdiri sendiri tanpa bersinggungan dan berdampingan dengan yang lain. Tidak ada "monogami kegiatan", yang ada adalah "poligami" mutlak dan serentak. Satu elemen bersinergi dengan elemen lainnya kemudian menghasilkan sebuah karya dalam beragam bentuknya.
Ketika merangkai tulisan ini, di depanku terdapat beberapa perangkat dan benda pendukung yang membuatku melahirkan untaian kata dan kalimat ini. Ada laptop dan HP sebagai produk teknologi warisan zaman modern. Ada internet sebagai perantara dan "kurir komunikasi". Ada segelas jus alpukat sebagai minuman tradisional dan yang terpenting ada imajinasi sebagai bagian dari "aku yang mengada", Cogito Ergo Sum kalau menurut Rene Descartes sang filosof rasionalis.
Tak ketinggalan, di balik laptop tadi, ada sebungkus rokok tersembunyi yang merupakan representasi dari gayaku sebagai seorang lelaki. Â Gaya yang banyak mendapat kecaman dari para dokter dan ahli kesehatan termasuk pemerintah. Tapi tunggu dulu, walaupun barang tersebut menuai kecaman, bukankah menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, suntikan dana BPJS sejumlah 5 triliun berasal dari cukai benda itu. Ah... ini sekedar apologi pribadi saja supaya kecanduan benda tadi mendapatkan legitimasi.
Laptop, HP dan internet adalah produk teknologi kekinian. Orang sering menyebutnya sebagai hasil produksi zaman modern (walaupun sekarang katanya sudah memasuki zaman informasi). Modernitas merupakan keniscayaan sejarah yang lahir di Eropa dan Dunia Barat. Lahir karena kesadaran manusia untuk kembali kepada "kekuatan dan kemampuannya" sebagai makhluk dengan rasio dan intelek.
Kata modern berasal dari bahasa latin "modernus" yang diambil dari kata "modo" yang berarti "baru saja" dan "sekarang ini". Dalam kamus Webster, kata "modern" mengandung beberapa arti, di antaranya adalah "masa kini" (present) atau periode yang membentang dari masa lalu (sekitar tahun 1500-an) sampai masa sekarang.
Sementara itu dalam Encyclopaedia of Religion, modern didefinisikan sebagai istilah korelatif yang berarti sesuatu yang baru sebagai lawan dari yang kuno. Â Selain itu ia juga berarti sesuatu yang bersifat inovatif sebagai kebalikan dari yang tradisional.
Kata modern ini mengadaptasi dan mencakup suatu metode, ide, dan teknik yang dianggap mutakhir. Dalam konteks peradaban dan kehidupan sosial, kata modern ditandai oleh dua ciri utama, yaitu rasionalisasi (cara berpikir yang rasional) dan teknikalisasi (cara bertindak yang teknikal).
Beriring-iringan dengan lahirnya zaman tersebut, gerakan revolusi Perancis, revolusi industri, gerakan enlightenment, gerakan aufklarung merupakan penyebab dan sekaligus akibat dari kesadaran baru manusia pada masa itu. Hasilnya adalah perubahan drastis dalam hampir semua aspek dan bidang kehidupan manusia.
Pengaruhnya merembes mulai dari sistem politik dengan munculnya demokrasi dan nasionalisme, sistem ekonomi dengan lahirnya kapitalisme yang pada akhirnya mendorong pada munculnya kolonialisme. Sebuah gerakan yang sempat "menyengsarakan" bangsa kita selama 350 tahun lamanya di saat bangsa kita masih berkutat dengan dunia kerajaan dan sistem kepercayaan yang non rasional atau irasional (di mata mereka).
Kini efek domino dari zaman modern tersebut sudah sampai ke pelosok dunia, merasuki nafas dan atmosfer kita. Termasuk ke desa di mana tulisan ini dibuat di sebuah rumah pinggir sawah yang jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan seperti Jakarta. Begitulah keniscayaan zaman yang tidak mungkin bisa kita hindari. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi sebaik mungkin; bukan penolakan atau vonis negatif lain berbau keyakinan keagamaan yang mengharamkan dan mengkafirkan.
Tradisi
Sementara itu, tradisi tidak boleh kehilangan fungsi identitasnya. Modernisme boleh saja menguasai berbagai aspek kehidupan kita, tetapi tradisi dan warisan budaya dalam berbagai bentuknya tidak boleh hilang. Boleh kita sekali-kali menyeruput Coca Cola sebagai bagian dari globalisasi ekonomi dalam rangka mencicipi rasa yang diimpor ke dalam negeri. Tetapi jus alpukat dengan resep tradisional menggunakan pemanis gula Jawa atau gula kelapa juga tidak kalah sedapnya.
Tradisi atau kebiasaan (Latin: traditio, "diteruskan") adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Demikian hasil pencarian Google ketika mendefinisikan tradisi.
Kata kuncinya adalah traditio, yang berarti diteruskan. Ini berarti bahwa meneruskan tradisi atau adat kebiasaan yang baik tentunya, merupakan salah satu makna dan fungsi intrinsik dari pengertian tradisi itu sendiri. Tradisi hanya akan langgeng jika kita pelihara dan kita teruskan ke anak cucuk kita. Sebuah warisan budaya dan historis yang akan menjadi benda pusaka dan identitas bangsa.
Tradisi akan menjadi penanda kita di antara bermacam-macam manusia di dunia ini. Tradisi akan menjadi identitas bangsa dan pembeda antara Bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lainnya. Tradisi akan menjadi "ruh dan jiwa" manusia Indonesia ketika berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya di dunia. Jadi jangan sepelekan atau meninggalkan tradisi.
Apabila kita perhatikan sekarang ini, zaman dengan arus globalisasi dalam segala hal hampir menggerus tradisi dan identitas anak-anak bangsa. Anak muda sekarang lebih kenal burger dari pada gudeg, lebih mengerti roti dari pada nasi, lebih paham Mac D dari pada ayam goreng Ny. Suharti. Padahal yang terakhir dari rentetan kuliner tadi adalah warisan budaya kita sendiri.
Ada ketidakseimbangan dalam praktik pembelajaran dan pendidikan kita. Atau paling tidak, kita selaku orang tua, lalai dan lupa dalam mengenalkan warisan-warisan tradisional tadi kepada anak-anak kita. Mungkin saatnya kita sekarang kembali menyadari bahwa di samping beradaptasi dan mengakomodasi hasil dunia modernisasi, kita juga perlu untuk menguatkan jati diri dan identitas diri kita semua dengan balutan tradisi.
Teknologi sebagai hasil modernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan tradisi yang kita pegang hanyalah merupakan jenis-jenis kemasan yang menyelimuti diri kita sebagai manusia dengan kedirian dan keakuan masing-masing.
Akal Pikiran
Bahasa Inggris menyebut akal pikiran ini dengan istilah "reason". Sedangkan Bahasa Latinnya adalah "rasio" yang berarti hubungan dan pikiran. Maka akal pikiran ini berfungsi untuk memikirkan sesuatu dan mencari hubungan-hubungan di antara beberapa hal yang ditemui manusia dalam kehidupannya dengan cara abstraksi dan konseptualisasi.
Hakikat manusia yang membedakan antara dia dengan hewan dan antara dia dengan benda-benda adalah pikirannya. Pikiran yang merupakan pemberian utuh dari Sang Pencipta. Sebagai penanda bahwa kita adalah manusia, bukan hewan, bukan setan atau bukan malaikat.
Dengan akal pikiran, manusia bisa "menjadi ada" dan "ada yang menjadi" di tengah-tengah kehidupan. Menjadi ada hanyalah berwujud di dunia ini tanpa ada karya dan kreasi. Sedangkan ada yang menjadi adalah gerak dinamis yang dimotori oleh kreativitas dan imajinasi positif yang berasal dari pemikiran dan rasio. Manusia tidak hanya cukup "meng-ada" di dunia ini, tetapi juga harus "menjadi".
Untuk bisa mengubah manusia dari "ada" ke tahap "menjadi", diperlukan beragam perangkat, sarana prasarana dan pranata. Akal dan pikiran adalah perangkat bawaan yang sudah melekat sejak kita lahir. Itu saja tidak cukup, pendidikan adalah salah satu pranata sosial yang berfungsi untuk mempercepat proses transformasi manusia agar bisa "menjadi". Menjadi lebih baik menjadi lebih etis dan menjadi lebih pintar tentunya.
Dalam proses yang dinamis untuk "menjadi" itulah peranan teknologi, modernisme dan tradisi amatlah penting. Ketiganya haruslah berjalan beriringan tanpa ada yang lebih berat antara satu dengan yang lainnya. Tanpa dukungan teknologi, hidup manusia hanya akan seperti zaman pra-sejarah dengan tingkat kemampuan teknis yang rendah. Tidak ada efisiensi, tidak ada efektivitas baik dalam waktu atau dalam pekerjaan.
Sedangkan tanpa tradisi, maka manusia hanya akan menjadi homogen sebagai hasil dari bentukan modernisme dan teknologi. Tidak akan ada keragaman budaya dan adat kebiasaan di antara manusia. Hidup menjadi sangat membosankan meskipun amat berkemajuan. Memasrahkan diri kepada hasil-hasil modernisme dan teknologi hanya akan membuat foto copy dari manusia-manusia yang mekanistik dan robotik.
Belakangan bahkan muncul arus teknologi yang dikenal sebagai artificial  intelligence (AI). Kecerdasan buatan yang sedang menuju ke arah menggantikan kecerdasan manusia. Tidak mengherankan jikalau seorang ilmuwan sekelas  Stephen Hawking mengkhawatirkan dampak dari AI ini. Kekhawatiran di mana AI akan menggantikan peranan manusia di masa datang.
Oleh karena itu, maka upaya kita untuk mengawinkan antara teknologi modern, tradisi dan pikiran merupakan salah satu cara bagaimana kita sebagai manusia tidak terperosok menjadi manusia mekanistik dan robotik yang sekedar "mengada". Tetapi dengan perkawinan tersebut, kita bisa menuju ke arah untuk bertransformasi dari sekedar "mengada" ke tahap "menjadi". Hanya dengan cara "menjadi" itulah manusia bisa terbebas dari cengkeraman teknologi dan dapat memfungsikan tradisi sebagai identitas diri.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI