Miris, masygul, dongkol, kecewa kalau melihat perdebatan baik di media televisi maupun media sosial yang ujung-ujungnya begitu konyol, keluar dari substansi, konteks, dan berakhir menjadi ad hominem.
Perilaku buruk ini kerap dipertontonkan justru oleh mereka yang merupakan orang-orang terhormat, terdidik dalam lingkup sosial masyarakat. Ada anggota dewan, politisi, pengamat, aktivis, bahkan yang katanya agamawan. Tanpa malu-malu, sungkan, risih, keluar cacian, hujatan yang menyerang pribadi.
Malah di medsos, ada pesohor dengan embel-embel gelar akademik di profil akun-nya pun tanpa rasa adab meracau dengan kasar hal-hal bersifat pribadi.
Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad pernah mengingatkan untuk tidak mengolok-olok, memanggil seseorang dari bentuk fisiknya? Misalnya menyebutnya dengan Si Pincang, Si Hitam, dan sebagainya.
Sekarang, serangan secara personal bukan saja ke fisik namun juga meliputi segala hal. Bisa suku, agama, status sosial, gender, bahkan aliran politik.
Apa sih Ad hominem itu?
Dalam Sophistic Refutations, filosof Aristoteles (384-322 SM) menjelaskan bagaimana kekeliruan saat seseorang menyerang pada pribadi lawan bicaranya (ad hominem) bukan pada argumennya. Seharusnya  -menurut Aristoteles yang dikenal dengan dialektikanya-  dalam berargumen itu asumsi lawan justru digunakan sebagai strategi dialektis untuk mematahkan argumen dan asumsi mereka sendiri. Tanpa menyerang individu yang membuat argumen.
Kata ad hominem sendiri merupakan singkatan dari argumentum ad hominem (bahasa latin) yang berarti: tertuju pada orangnya.
Dalam psikologi, cara-cara ad hominem ini tak lebih dari sikap defensif sebagai mekanisme pertahanan diri karena kondisi tersudut akibat tak mampu lagi berargumen sesuai topik pembicaraan.
Sementara dalam bahasa filsafat, strategi ad hominem ini dipandang sebagai penalaran yang cacat logika, kesesatan logika (logical fallacy). Sebab perdebatan yang benar dan sehat itu fokusnya adalah pada isi argumen, bukan hal-hal pribadi dari orang yang menyampaikan.
Ragam ad hominem ini bukan sekedar menyerang secara retorikal kesalahan dalam penggunaan istilah, pemilihan diksi, atau atribusi yang melekat dari orang yang membuat argumen, namun juga perilaku tak menghargai, menganggap remeh pembicara dengan sibuk main hp sendiri sebagaimana yang dikritik keras oleh sang budayawan nyentrik, Mbah Sujiwo Tejo di acara ILC.