Sulit terlupakan. Kala itu. Di sebuah booth komunitas "Kutu Buku". Saya mendapatkan kenangan manis. Saya termasuk satu diantara orang-orang yang mendapatkan hadiah buku berjudul "Sehangat Mentari Pagi".Â
Merupakan sebuah kehormatan. Buku itu langsung diberikan oleh penulisnya sendiri, Tjiptadinata Effendi. Sebuah nama yang tak asing di jagad raya Kompasiana. Terima kasih, Pak Effendi. Begitu saya sering menyebut Beliau.
Hadiah itu diberikan saat event Kompasianival 2015 berlangsung di Mall Gandaria City, Jakarta. Event Kopdar terbesar Kompasiana itu dihelat pada tanggal 12-13 Desember 2015. Kala itu, Kompasiana masih mengusung motto "Sharing and Connecting" dan iklannya belum "sehangat" saat ini.
Satu hal yang tak terlupakan, Beliau dengan senang hati menorehkan tanda tangannya di buku itu disertai pesan tertulis "Teruntuk Saudaraku, Yunus M. Terima kasih atas persahabatan yang tulus". Â

Tidak itu saja, buku "Sehangat Mentari Pagi" menebarkan pesan-pesan moral yang bersifat universal. Pesan-pesan itu diangkat dari pengalaman riil dirinya selama "melakoni" kehidupan atau bergaul dengan orang-orang dari beragam latar belakang.
Dari tulisan-tulisannya yang bertebaran di Kompasiana, ada narasi tentang dirinya saat jatuh. Saat bangkit dari keterpurukan. Saat tinggal di Jakarta dan Australia. Ada saat-saat menikmati perjalanan keliling dunia. Pun ada saat-saat sebagai suami yang disayang isterinya, dan orang tua yang disayang oleh anak-anaknya, dan masih banyak lagi.
Kisah-kisah itu Beliau tulis apa adanya. Mayoritas obyek tulisannya adalah membicarakan tentang dirinya. Tentang pengalaman yang Beliau "lakoni". Obyeknya bukan membicarakan tentang orang lain yang ia tidak tahu.
Dalam pandangan saya, apa yang ia tulis mengandung pelajaran-pelajaran hidup yang jarang ditemukan di sekolah-sekolah formal. Pelajaran-pelajaran kehidupan semacam itulah yang berusaha Beliau komunikasikan kepada halayak.
Sungguh pun begitu, tulisan pria kelahiran Padang, 21 Mei 1943 itu sangat jauh dari kesan menggurui. Pun bukan seperti isi khutbah yang digemakan dari atas bukit. Tulisannya bermanfaat sebagai "obat jiwa" bagi dirinya dan orang lain.
Hemat saya, begitulah gambaran umum dari tulisan-tulisan Beliau yang terekam di Kompasiana. Hingga saat artikel ini ditulis, Kompasianer of the Year 2014Â itu telah menghasilkan 5.266 artikel dan telah dibaca oleh 5.505.318 viewer.Â