Kamu mengulang kesalahan yang sama, menanam perih yang sengaja kulupa. Kata-katamu seperti angin yang menderu. Penuh kepalsuan. Aku sangat-sangat tidak nyaman bahkan tidak bisa berpura-pura baik-baik saja saat ini.
Terluka. Lagi, kamu pecundangi aku. Apakah kamu pernah menyesal sudah membunuku berulang kali, aku sudah lama mati untukmu. Barangkali tidak sama sekali, toh hari ini terjadi lagi dan lagi. Seperti batu ke air yang dahsyat, kaucampakkan aku. Tidak berakal, tidak tahu diri. Dengan sengaja dan sadar, mengajak pun memancingku jatuh pada dosa yang merayu. Benar-benar marah dan ribuan huruf-huruf umpatan terucap.
Patah hati. Sudah seperti kali yang habis airnya, kering kerontang. Menyakitkan. Sampai penghujung tahun, barangkali aku belum mampu bersih-bersih terhadap apa yang kamu tabur padaku. Bagaimana ketahananku, mau tak mau, rela tak rela, harus tahan. Ini paradoks hidupku. Entah aku pernah memaafkanmu, yang pasti aku membencimu.
Bersamamu aku terluka, apakah tanpamu aku tetap terluka? Kuharap tidak. Sudah terlalu lama, ada badai hebat sebab mendengar kata-katamu yang seperti angin menderu. Kuping dan hatiku panas. Di penghujung tahun, hatiku terpasung dari kesejahteraan untukmu. Apakah suatu hari nanti, akan berubah? Belum tahu jawabannya. Bisa jadi ada satu kisah manis yang tersimpan di kepala. Saat itu terjadi, aku akan buat pengakuan bahwa kamu pernah menjadi hal yang baik di semestaku.
***
Rantauprapat, 21 Desember 2022
Lusy Mariana Pasaribu
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI