Mohon tunggu...
LumbaLumba
LumbaLumba Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis

Mencoba berbagi kisah

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Gadis Tercantik di London (Perang Eropa)-21

2 April 2014   13:53 Diperbarui: 5 Juni 2023   21:31 215
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

        "Siapa nama gadis itu? Tinker Bell?" Stella pura - pura lupa dan bertanya. "Bukan," sahut Lancelot, "namanya Arabel. Tak kusangka dia datang juga ke acara ini."

----------------------                   -----------------------

        Malam itu di rumah Lord Cavanaugh diadakan perjamuan besar.

        Entah perjamuan dalam rangka apa, tidak begitu jelas. Yang terang acara tersebut terbuka untuk umum. Hampir semua tamu undangan adalah masyarakat biasa.

        Dalam acara tersebut selain Lord Cavanaugh, muncul pula sejumlah rekan politiknya. Ada juga beberapa tamu undangan khusus. Dua orang petinggi di Kementerian Pertahanan tampak datang membawa istri masing - masing. Di samping itu hadir pula Sir George Wilkinson yang menjabat sebagai Lord Mayor of London. Beberapa tokoh lainnya, baik dari kalangan sipil atau militer, satu - persatu juga ikut datang.

        Stella tak ketinggalan setor muka di acara itu. Dandanannya tampak seadanya. Ia baru saja dimarahi atasannya di Daily Herald karena kemarin bolos kerja. Supaya tak dipecat, ganti ruginya meliput acara ini. 

        Untung Stella adalah gadis yang optimis dan ceria. Ini hanya acara senang - senang, bukan? Tidak sulit meliput acara seperti ini. Bahkan dirinya bisa dapat kudapan gratis. Dulu pernah lebih parah. Stella bertugas meliput singa kebun binatang di dalam kandangnya, sementara pawangnya tidak masuk kerja karena sakit. 

        Namun Stella tidak sendirian malam ini. Ia ikut menyeret Lancelot ke dalam 'penderitaannya'.

        "Kenapa kau mengajakku ke tempat ini?" Lancelot membetulkan kerah jasnya yang terbalik. Ia benci acara formal.

        "Tenanglah, tuan Green." Stella berjalan santai. "Saya takut pergi sendirian. London kini sedikit tidak aman bagi anak gadis."

        Stella lalu menggiring Lancelot ke meja pojok ruangan. "Nah, silakan duduk disini. Nikmatilah hidangan sepuasnya sementara saya bekerja."

        Selesai berkata, Stella menghilang. Meninggalkan Lancelot sendirian.

        Lancelot mendongak. Deretan lampu kristal di langit - langit ruangan membuat suasana begitu terang. Para pelayan berseliweran sambil membawa jamuan. Semua tamu tampak berdandan necis dan mengobrol dengan ceria. Tidak terasa bahwa London termasuk wilayah garis depan peperangan.

        Lord Cavanaugh memberikan pidato sambutan yang tidak didengarkan Lancelot. Pemuda itu sudah ngantuk berat. Mata Lancelot baru terbuka ketika mendengar orang - orang bersuara. Mereka berdecak takjub melihat seorang perempuan yang berjalan memasuki ruangan. Di sampingnya seorang pria berwajah seram tampak berjalan mengiringi.

        "Maaf datang terlambat, tuan Cavanaugh." Perempuan yang tidak lain Arabel itu memberi hormat. "Semoga anda masih berkenan memberi tempat." Arabel berkata pelan sambil menunduk malu - malu.

        Lord Cavanaugh tersenyum lebar. Ia pun membimbing Arabel menuju meja kosong.

        Selama Arabel berjalan, pandangan para tamu terpaku padanya. Lebih - lebih para pria, baik tua maupun muda. Semua tidak berkedip menatapnya. Beberapa pejabat berbisik - bisik terpesona. Arabel memang sangat cantik meski terlihat kesepian. Ia bagai putri raja tak tahu apa - apa yang baru keluar dari tembok istana. 

        Begitu Arabel tiba, Stella balik ke meja Lancelot.

        "Gadis tercantik di London ... ck, ck, ck ...," Stella mendesis. "Itu kan gadis yang anda sukai, tuan Green? Saya masih ingat wajahnya. Siapa namanya? Tinker Bell?"

        "Arabel," sahut Lancelot membetulkan, "tak kusangka dia juga diundang. Mungkin Lord Cavanaugh penggemar pertunjukkannya."

        Selanjutnya adalah acara ramah - tamah biasa.

        Para tamu dipersilakan ngobrol sambil menikmati hidangan. Mereka bersantap sambil dihibur alunan musik ringan yang ceria. Sesungguhnya acara yang diadakan Cavanaugh ini cukup bermuatan politis. Ia dan rekan - rekan sedang mencari dukungan publik. Mereka membuat acara ini terkesan santai supaya orang merasa senang.

        Saat musik berganti dengan irama yang lebih pelan dan lembut, Cavanaugh mengulurkan tangan pada Arabel. Pria tua itu mengajaknya untuk berdansa.

        Arabel sempat enggan namun Eduard, pria yang datang bersamanya, terus memaksa. Arabel pun bangkit dan turun untuk berdansa. Kembali mata semua orang tertuju padanya. Ternyata selain anggun, Arabel juga pandai berdansa.

        "Saya pernah melihat salah satu pertunjukan anda," Cavanaugh berkata dengan nada kagum, "tak ada orang yang lebih pantas dari nona untuk memerankan Cleopatra."

        "Terima kasih, tuan." Arabel mengangguk. Ia enggan menatap Cavanaugh. Sorot matanya seperti ingin menelan Arabel bulat - bulat.

        Arabel meneruskan acara dansanya dengan sedikit kikuk. Luka akibat tembakan di sisi perutnya masih terasa sakit. Namun gadis Jerman itu berusaha menutupinya.

        Lancelot menatap pasangan dansa itu dengan cemburu. Ia juga menginginkan berdansa dengan Arabel. Tapi rasanya tidak mungkin gadis itu bersedia. Ia hanyalah satu diantara sekian banyak laki - laki yang mengaguminya. Apalagi Lancelot tak bisa dikatakan istimewa.

        Makin lama Lancelot makin pesimis. Ia merasa Arabel tidak akan mau membalas rasa cintanya.

        Sekian lama berdinas di RAF, Lancelot selalu kesulitan mencari waktu luang mengunjungi Arabel. Hal itu semakin memupus harapannya untuk mengenal gadis itu lebih dekat.

        Stella diam - diam melirik Lancelot. Ia merasa tahu apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. Stella menghela napas. Well, mau berdansa saja denganku tuan Green? Ujarnya dalam hati.  

        Dengan tinggi lebih dari 190 cm, Lord Cavanaugh tidak bisa dikatakan seimbang berpasangan dansa dengan Arabel. Pria berwajah kurus itu terlalu jangkung bagi sang gadis.

        Eduard sendiri tenang - tenang saja sambil minum sampanye. Menjadi seorang mata - mata seperti Arabel memang berat. Ia harus mendekati tokoh - tokoh penting, meski dirinya tak suka. Itu demi mendapatkan simpati dan akhirnya tentu saja, informasi rahasia.

        Musik dansa segera berakhir dan para tamu kembali ke meja.

        Mendadak seorang pengunjung naik ke podium dan menyambar mikrofon. Semua orang menoleh saat suaranya terdengar keras berbicara. Tamu itu sepertinya agak mabuk. Ia ngomong sekenanya.

        "Si Penembak Cepat. Ada yang tahu siapa dia?" Pria itu berdiri terhuyung - huyung. "Tidak ada? Aku tahu orangnya."

        Para hadirin menatap diam ke arah podium. Meski tahu pria itu mabuk, tak ada yang berpikir untuk menyeretnya turun. Orang - orang terlalu terpesona ketika nama Si Penembak Cepat disebut. Pemabuk itu lalu bersuara lagi.

        "Apa pendapat kalian tentangnya? Bukankah dia pahlawan sejati? Para elit yang hanya bisa bicara saat Nazi menyerbu negeri ini tak sebanding dengannya."

        Tentu saja ucapan itu menyinggung sejumlah tokoh dan pejabat yang hadir, termasuk Lord Cavanaugh. Sebuah ucapan yang melanggar nilai kesopanan.

        William beserta sejumlah anak buah Cavanaugh langsung bergerak ke podium. Namun Cavanaugh mencegahnya dengan melambaikan tangan.

        "Kami selalu berdiskusi demi negara ini, " Cavanaugh berkata, "anda mungkin tak sadar, politik lebih penting dalam menghadapi Nazi. Perkataan kami di parlemen lebih berpengaruh bagi masa depan Inggris daripada peluru Si Penembak Cepat. Dia hanya anak kemarin sore yang kebetulan populer."

        Terdengar suara bergumam disana - sini.

        Para tamu yang datang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bergunjing mendengar pernyataan tak enak Lord Cavanaugh. Semua tidak setuju dengannya. Saat ini Si Penembak Cepat begitu harum di hati rakyat. Membuat mereka begitu sensitif. Sedikit saja ada orang menghinanya, publik tak akan suka.

        "Tenang, tenang semua." Seorang rekan politik Cavanaugh bersuara. "Apa kalian pikir pilot itu lebih patriot dari kami? Kami lebih lama berjuang demi Inggris. Seharusnya kalian lebih memilih kami daripada dia."

        "Tapi pak, dengan hormat, apa anda berani bertempur sendirian melawan skuadron Jerman?" Seorang laki - laki bertubuh gemuk berdiri. "Apalagi Penembak Cepat tidak pernah memamerkan jati dirinya. Berbeda dengan orang yang memamerkan rasa patriotnya demi meraih simpati."

        Terdengar bisikan disana - sini. Sejumlah suara mulai bermunculan mendukung pendapat  tersebut.

        Sebelum situasi menjadi kian ricuh, Sir George Wilkinson segera naik ke podium. Diambilnya mikrofon dari tangan pemabuk tadi.

        "Tuan - tuan dan nyonya - nyonya, tidak perlu berdebat lagi. Tenangkan hati anda semua. Dan anda sendiri, pak ...," Wilkinson menoleh pada si pemabuk yang cengar - cengir, "kembalilah ke meja sebelum didamprat oleh istri anda."

        Pemabuk itu pun ngeloyor pergi. Provokator telah disingkirkan. Suasana perlahan kembali normal. Para tamu yang tadinya berdiri kini kembali duduk.

        "Mohon maaf, Sir George ...," seorang perempuan tiba - tiba berdiri, "kami sudah lama mendengar tentang kehebatan Si Penembak Cepat. Anak saya sedang sakit dan ingin bertemu idolanya tersebut. Bisakah anda memberitahu dimana dia?"

        Sir George Wilkinson terdiam. Tak bisa menjawab. Ia sama tidak tahunya dengan ibu muda tersebut. Sementara itu mata Arabel dan Eduard juga tak lepas dari Sir George. Kedua orang Jerman itu sama penasarannya dengan sang ibu muda.

        "Benar, tuan." Seorang nenek - nenek lalu ikut berdiri. "Sebagai pihak berwenang anda seharusnya dengan mudah mengetahui jati dirinya. Tolonglah rakyat biasa seperti kami untuk bertemu pahlawan itu."

        Sir George makin terpojok. Para tamu yang lain segera menyuarakan keinginan sama. Mendadak terdengar suara seorang pria dari belakang.

        "Dia bukan orang baik seperti yang kalian sangka!"

        Semua hadirin menoleh ke belakang. Mereka memandang Lancelot yang sedang berdiri. Stella tak menduga Lancelot akan ikut campur. Wajah gadis itu berubah pucat. Segera terbayang liputan beritanya akan jadi kacau malam ini.

Bersambung

(Kisah ini ditayangkan tiap senin - rabu)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun