Mohon tunggu...
Lukman Yunus
Lukman Yunus Mohon Tunggu... Guru - Tinggal di pedesaan

Minat Kajian: Isu lingkungan, politik, agama dan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Malapetaka Metode Blusukan ala Jokowi dalam Kampanye Politik

14 Juli 2020   11:07 Diperbarui: 14 Juli 2020   11:54 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada pemilu 2014 Joko Widodo berpasangan dengan Jusuf Kalla memperoleh suara 65.92 % sedangkan pasangan Prabowo - Hatta memperoleh suara 34.08 % di NTT. Begitu juga dengan perolehan suara dalam Pilpres 2019 Joko Widodo berpasangan dengan Maruf Amin mendominasi di NTT.

Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang kemunculannya di Wuhan, China sudah menyebar ke berbagai negara di dunia. Tidak terkecuali Indonesia. Penyakit ini sangat berbahaya hingga menelan banyak korban. Di Indonesia per Senin 13/7 jumlah kasus positif sebanyak 76.981. Pasien sembuh berjumlah 36.689 dan pasien meninggal 3.656 (Sumber: Kompas.com).

Dalam konteks Pilkada serentak yang mencakup pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakilnya, rencananya akan digelar pada tanggal 9 Desember 2020. Kendati pandemi Covid-19 masih ada, Pilkada serentak tetap dilaksanakan. Tentu saja ada pertimbangan mendasar soal urgensi Pilkada serentak tetap dilaksanakan.

Hal itu tertuang dalam pasal 8C Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2020 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pilkada Tahun 2020. (Sumber: CNN Indonesia).

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa di dalam tahapan Pilkada atau pemilu pada umumnya di Indonesia maupun di banyak Negara ada satu tahapan kampanye pemilu. Kampanye pemilu bisa dilakukan dua cara; secara langsung dan tak langsung. Berikut dalam kampanye juga ada atribut kampanye; baliho dan kaos.

Dalam kampanye langsung, kandidat akan menemui warga (konstituen) secara langsung. Baik itu dilakukan di tempat umum dengan menyiapkan fasilitas panggung dan sebagainya ataupun metode blusukan berjalan menemui warga dan berjabatan tangan. Sementara kampanye tidak langsung melalui media massa atau cetak.

Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, kampanye langsung seperti blusukan ke masyarakat berpotensi terkena virus. Kendati telah ada aturan menggunakan berbagai macam protokol kesehatan seperti masker dan jaga jarak tetap akan ada kemungkinan melanggar. 

Apalagi di tempat terbuka, tidak menjamin bisa mengendalikan masa dalam jumlah banyak. Sehingga metode blusukan yang acap kali digunakan oleh Presiden Joko Widodo ini sebaiknya dihindari. Alternatif kampanye tak langsung menjadi pilihan. Tinggal memanfaatkan media massa atau cetak.

Metode blusukan ala Joko Widodo dalam kampanye politik berbeda situasinya dengan sekarang. Dulu belum ada Covid-19 sehingga tidak ada bahaya yang mengancam keselamatan ketika melakukan blusukan. Sekarang ini jika hal itu tetap dipakai dalam berkampanye maka akan beresiko mendatangkan malapetaka. Maka perlu dipertimbangkan hal ini guna menghindari munculnya klaster baru Covid-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun