Pandemi COVID-19 merupakan sebuah bencana sekaligus wabah bagi umat manusia di seluruh Negara, termasuk Indonesia. Covid-19 memberikan dampak buruk bagi setiap kondisi masyarakat dari berbagai aspek, tidak hanya dari segi kesehatan namun juga dari segi aspek perekonomian dan pendidikan.
Program KKN Back To Village III yang Dilaksanakan oleh Universitas JemberUniversitas Jember ini terlatarbelakangi dari semakin buruknya kondisi perkembangan Covid-19 pada tahun 2021. KKN ini biasa di sebut sebagai KKN pulang kampung, yang mana KKN nya dilaksanakan di desa/ daerah tinggal masing-masing mahasiswa.
KKN yang dilaksanakan penulis kali ini yaitu berada Di Dsn. Pasinan Barat, Desa Singojuruh, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, yang mengangkat tema tentang Pemberdayaan Wirausaha Masyarakat Terdampak Covid-19. KKN ini Dilaksanakan mulai tanggal 11 Agustus -09 September 2021. Pada Minggu Pertama KKN BTV III, tepatnya tanggal 12 Agustus 2021 saya mengikuti Ceremony Pernerjunan KKN melalui zoom meeting bersama pihak Universitas Jember dengan didampingi salah satu staf dari Kantor desa Singojuruh.
Salah satu wirausaha di desa Singojuruh yang memiliki potensi untuk di kembangkan dan juga mengalami dampak dari munculnya pandemi covid yaitu usaha Kerupuk Keluntung. Usaha Kerupuk Keluntung yang ada di desa Singojuruh ini tidak hanya dilakukan oleh satu pengusaha saja, namun dilakukan oleh 3 orang wirausaha yaitu ibu Sunaiyah, ibu Sayuti dan Ibu Temu.
Pada minggu pertama ini saya juga melakukan observasi permasalahan yang dilami wirausaha selama masa pandemi, kemudian melakukan pemaparan dan diskusi tentang Program kerja KKN yang akan dilaksanakan. Hal ini dilakukan agar program kerja yang akan mahasiswa laksanakan dapat selaras dengan keinginan wirausaha. Program KKN BTV III ini setiap minggunya mahasiswa melakukan pertemuan satu minggu sekali bersama DPL (Dosen Pembimbing Lapang) dan melakukan pembuatan laporan kegiatan setiap minggunya berupa logbook dan video komplikasi dari semua kegiatan dalam 1 minggu.
Karena berdasarkan hasil observasi dari wirausaha menjelaskan bahwasannya “kerupuk keluntung ini masih sedikit orang yang tau, bahkan di kawasan daerah banyuwangi inipun tidak semua orang tau” ujar ibu Sunaiyah. Pengenalan dan pemasaran produk ini biasannya hanya dijual secara offline dan di promosikan dari mulut kemulut, sehingga saya menginovasi dengan melakukan pemasaran secara offline dan promosi secara online/digital. Sekarang kerupuk keluntung dari ketiga wirausaha ini bergabung menjadi satu brand yaitu “Kerupuk Keluntung Pasinan”. Pemasaran kerupuk keluntung ini dilakukan secara offline dan online (melalui: WhatsApp, Instagram (@keluntung_Pasinan), Facebook(keluntung_Pasinan), dan SHOPEE(Keluntungpasinan_BWI)).
Penginovasian pengemasan kerupuk keluntung ini juga dilakukan oleh mahasiswi KKN, yang mana awalnya hanya di kemas dengan kantong kresek dan hanya di jual mentah, sekarang kerupuk keluntung tampil dengan kemasan baru yaitu menggunakan standing pouch dan diberi sebuah stiker/ label sebagai brand produk supaya lebih mudah dikenal. Kemasan kerupuk keluntung ini juga tidak hanya dijual dalam kondisi mentah tapi juga dijual dengan kondisi sudah matang/digoreng. Pengemasan seperti ini lebih banyak menarik perhatian konsumen bahkan ada beberapa orang yang memesan untuk dijual kembali.