2. Kesadaran mengenai lokasi atau konteks hubungan. Hubungan personal itu hanya berlangsung di antara tembok-tembok di kampus. Di luar kampus, hubungan bisa berbeda sama sekali. Biasanya akan muncul proses penyesuaian ketika dosen dan mahasiswa itu secara tiba-tiba bertemu di luar kampus. Â
3. Status mahasiswa. Dengan status sudah lulus, misalnya, mahasiswa memiliki posisi yang lebih mandiri dalam hubungannya dengan dosen tersebut. Status itu memberikan kebebasan kepadanya ketimbang ketika dia masih berstatus mahasiswa.
Ketiga hal di atas bertujuan memberikan kesadaran kepada dosen (dan mahasiswa) mengenai sifat hubungan dengan mahasiswa yang terbatas.Â
Ini terkait dengan kenyataan bahwa dosen cenderung bekerja di kampus hingga pensiun. Sedangkan mahasiswa berada di kampus dalam waktu terbatas, yaitu maksimal tujuh tahun untuk strata S1.
Tulisan mengenai perilaku mahasiswa meng-ghosting dosen ini tidak bertujuan untuk menyalahkan mahasiswa. Bukan itu tujuan tulisan ini.Â
Mahasiswa tentu saja punya alasan-alasan tertentu atau khusus melakukan ghosting itu. Alasan bisa berasal dari dosen, mahasiswa sendiri, atau lingkungannya.Â
Pada konteks tertentu, lingkungan eksternal bisa jadi lebih mendorong mahasiswa meng-ghosting dosennya.
Melalui tulisan ini, dosen dan mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran bersama mengenai sifat hubungan mereka yang terbatas (baik dari segi waktu dan tempat) agar insiden ghosting tidak terjadi atau dapat diantisipasi.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H