Mohon tunggu...
Tri Lokon
Tri Lokon Mohon Tunggu... Human Resources - Karyawan Swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Raih 4 Perunggu 1 Perak di OSN XI, Kualitas Pendidikan Sulut Terangkat

7 September 2012   01:31 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:49 536
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_204362" align="aligncenter" width="448" caption="Rhesa Tendean (Fisika), Wiken Lengkong (Astronomi), Louis Putra Pandi (Kimia) dan Igbal Taher (Ekonomi) Meraih Perunggu OSN XI di Jakarta (foto: Agnito)"][/caption]

Sambil masing-masing memegang medali dan senyum ceria yang terpancar dari wajah mereka, ke empat siswa SMA utusan dari Propinsi Sulut tampak bahagia setelah diumumkan meraih medali perunggu di bidang Fisika, Astronomi, Kimia dan Ekonomi dalam ajang OSN XI yang diselenggarakan di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta tadi malam (7/9).

Keberhasilan mereka meraih perunggu dalam ajang OSN XI kali ini menjadi catatan sejarah bagi dunia pendidikan di Indonesia Timur, khususnya di Sulut. Tak hanya itu, Sulut juga membawa pulang medali perak Matematika untuk SD. Dengan tambahan medali ini, Sulut menorehkan prestasi di ajang OSN XI Jakarta dengan 1 medali perak dan 4 perunggu.

“Baru sekarang, kita mendapat 3 medali sekaligus. Biasanya, hanya dapat satu saja bahkan kadang tidak sama sekali.” tulis Agnito, guru pendamping 6 siswa Lokon yang menjadi utusan Sulut di status FB-nya tadi malam setelah diumumkan para peraih medali OSN. Apa yang ditullis oleh Agnito itu, diharapkan dibaca oleh para pemerhati pendidikan dan penyelenggara pendidikan di Sulut.

Para peraih medali perunggu OSN XI tingkat SMA dari kontingen Propinsi Sulawesi Utara adalah Louis Putra Pandy (Kimia), Wiken Lengkong (Astronomi), Rhesa Tendean (Fisika), Igbal Taher (Ekonomi). Kecuali Igbal Taher yang berasal dari SMA Binsus Manado, ke tiga siswa lain peraih medali perunggu itu berasal dari SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon.

[caption id="attachment_204363" align="aligncenter" width="448" caption="Tiga Siswa Lokon Peraih Perunggu, Bersama Bp. Feri Doringin PhD (Kepsek SMA Lokon) dan Bp. Anton (Guru Fisika SMA Lokon)"]

1346981085895387948
1346981085895387948
[/caption]

Prestasi mereka di ajang OSN tahun ini selain mengukir sejarah baru di dunia pendidikan Sulut, juga menjadi barometer kualitas pendidikan di Indonesia Timur yang selama ini tenggelam oleh sekolah-sekolah yang berada di Indonesia bagian Barat, khususnya Jawa. Sejak OSN dimulai pada tahun 2002 hingga sekarang, juara umum selalu diraih oleh kontingen dari Jawa, seperti Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ini menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan di Jawa lebih maju daripada di luar pulau Jawa.

“Membentuk generasi emas yang inovatif, berbudaya dan berdaya saing” ditetapkan menjadi tema OSN kali ini. Bahkan ketika pawai pendidikan tanggal 2 Mei 2012 di Tomohon, saya melihat banyak peserta membawa banner bertuliskan tema itu.

Keseriusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mendongkrak kualitas pendidikan di Indonesia dibuktikan dengan mengadakan pembinaan berkelanjutan. "Ya, kami melakukan pembinaan berkesinambungan untuk para juara OSN. Selain dikirim ke level internasional mereka juga mendapat kesempatan masuk PTN tanpa tes," kata Totok Suprayitno, Dirjen Kemendikbud, seperti yang ditulis dalam Kompas.com baru-baru ini.

Perguruan Tinggi yang sudah bersedia menampung “pembinaan berkelanjutan” itu adalah UI, ITB, IPB, ITS dan UGM. “Kenyataannya program itu terkendali bukan dari pemerintah tetapi dari siswa sendiri. Ada yang meraih emas bidang matematika tetapi yang bersangkutan justru memilih jurusan biologi. Kami berharap agar siswa tetap konsisten pada bidang mata pelajaran yang disukai” ungkap Muhammad Nuh, Menteri Dikbud RI menjelaskan soal pembinaan itu sebagai bentuk penghargaan bagi para peraih medali emas OSN.

Meski ada perhatian dan penghargaan dari pemerintah, beberapa siswa yang ikut OSN menceritakan bahwa perjuangan untuk lolos di tingkat Nasional tak mudah. Dibutuhkan ketekunan, keuletan, semangat tinggi dan doa untuk bisa lolos ke tingkat Nasional meski diakui bahwa untuk meraih medali masih tergantung dari para juri dan Tuhan sendiri.Mereka juga bersyukur karena sekolah dan para guru pendamping juga andil dalam pembinaan dan pendampingan mereka melalui klub-klub sains setelah pulang sekolah di sore hari.

Kontribusi foto oleh Agnito Moningka, Wakasek TI Pembelajaran SMA Lokon

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun