Mohon tunggu...
Lembayung Lumintang
Lembayung Lumintang Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Hobi suka main ukulele sambil nyanyi. Lebih suka menulis daripada membaca. Orangnya kadang intropet kadang ekstropet, kadang pendiem kadang petakilan, kadang nyaman kadang ngilang, canda. Suka musik.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Membangun Semangat Belajar Saat Mengalami Culture Shock pada Awal Masuk Dunia Perkuliahan

4 Desember 2022   11:00 Diperbarui: 5 Desember 2022   03:51 527
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi seseorang mengalami kecemasan dan frustasi karena culture shock di awal masuk kuliah. Sumber: Pexels/Kat Jayne via Kompas.com

Hampir seluruh orang mengalami culture shock saat masuk dunia perkuliahan. Sebagai orang yang baru lulus dari sekolah menjadi mahasiswa di universitas, tentu wajar apabila mengalami culture shock tersebut, karena bukan hanya satu dua orang mahasiswa baru yang merasakan, tetapi hampir semua mahasiswa baru tersebut merasakan hal yang sama. 

Juga hal tersebut merupakan sebuah fenomena adaptasi dan penyesuaian situasi dari masa sekolah ke masa kuliah. Apalagi di saat kondisi seperti ini yang sudah mulai kembali normal setelah pandemi Covid-19 yang mengharuskan melakukan pembelajaran secara daring di rumah.

Culture shock merupakan situasi dimana seseorang merasa kaget, cemas, hingga syok dalam menghadapi kultur yang ada di sekitar lingkungannya. Hal tersebut menimbulkan perasaan yang tidak nyaman, tidak tenang hingga merasa terancam yang dialami oleh orang tersebut. Karena ia merasa lingkungan di tempat barunya berbeda dari tempat yang selama ini dikenalnya. Padahal ancaman tersebut bukannlah suatu ancaman sebenarnya yang benar akan terjadi.

Di dalam dunia perkuliahan, seseorang juga bisa merasakan hal demikian saat memasuki lingkungan baru. Seseorang akan merasakan cemas berlebih karena ia merasa terancam apabila berada di lingkungan baru tersebut. Selain itu, dari adanya culture shock dalam dunia perkuliahan akan berdampak juga pada diri seseorang yang menyebabkan ia mempunyai rasa tidak percaya diri, menarik diri dari lingkungan sosialnya, juga rasa frustasi.

Memasuki tahun ajaran baru tentu saja banyak diwarnai oleh peristiwa gegar budaya yang dialami oleh hampir semua orang, terutama peserta didik. Mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Bahkan orang yang sudah bekerja pun juga bisa merasakan hal tersebut. 

Menurut Oberg dalam Ridwan (2016:197), gegar budaya adalah sebuah penyakit yang diderita karena hidup di luar lingkungan budayanya, dan dalam proses untuk menyesuaikan diri di lingkungan barunya.

Tidak sedikit orang yang mengalami culture shock karena pengaruh lingkungan sekitarnya. Seperti contoh seorang lulusan sekolah yang sedang menjalani kehidupan barunya di lingkungan universitas. 

Metode belajar dan lingkungan sosial di universitas tentu berbeda jauh dari lingkungan belajarnya dulu. Sehingga secara tidak langsung ia harus menerima budaya yang terdapat di dalam lingkungan kampus tersebut yang sebelumnya tidak ada di lingkungan sekolahnya.

Biasanya hal demikian bisa menyebabkan seseorang takut untuk memulai aktivitas di dalam dunia perkuliahannya itu. Seperti takut untuk datang di mata kuliah. Hal tersebut justru akan menghambat proses akademiknya di dalam perkuliahan, karena tidak semangatnya seorang mahasiswa tersebut dalam menjalani kegiatan belajarnya di dalam kampus.

Sebagai bentuk dari sebuah adanya culture shock atau biasa yang disebut dengan gegar budaya di lingkungan mahasiswa, pasti memiliki dampak bagi orang yang merasakannya. Dampak tersebut bisa dipaparkan sebagai berikut:

  • Muncul perasaan frustasi hingga depresi

Saat seseorang mengalami culture shock di lingkungan barunya, ia akan merasa kaget hingga muncul perasaan frustasi. Hal ini disebabkan karena ia masih belum menerima kenyataan yang harus dihadapinya di lingkungan tempat ia beradaptasi. 

Ini merupakan suatu hal yang wajar untuk diterima. Tetapi, rasa frustasi yang ditimbulkan dari adanya culture shock bisa membuat orang yang merasakannya menjadi depresi apabila rasa kekhawatiran dan takut tersebut terlalu belebihan dan berkepanjangan.

  • Muncul keinginan untuk menarik diri dari lingkungan sosial

Rasa frustasi juga bisa muncul akibat dari gegar budaya yang dialami oleh seseorang, yang akan menyebabkan orang itu memilih untuk menyendiri karena sulitnya ia dalam beradaptasi di lingkungan barunya. 

Sehingga ia lebih memilih menarik diri dan menjauhi lingkungan sosial yang dirasa berbeda dari lingkungan sosial sebelumnya. Hal ini tentu harus dihindari oleh kita semua agar kita bisa memiliki interaksi sosial yang baik dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.

  • Hilangnya rasa percaya diri

Ketidaknyamanan dengan lingkungan baru juga menyebabkan hilangnya rasa percaya diri akibat dari adanya gegar budaya. Seseorang akan merasa takut untuk berada di lingkungan baru tersebut yang apabila berlangsung secara terus-menerus juga bisa menyebabkan depresi. Sehingga hal tersebut juga penting untuk dihindari agar rasa kepercayaan terhadap diri sendiri bisa tetap terjaga.

Sumber: Shutterstock
Sumber: Shutterstock

Dari ketiga dampak di atas, tentunya akan menggangu studi belajar di dalam dunia kuliah. Yang menyebabkan turunnya nilai akademik perkuliahan tersebut. Untuk itu, perlu adanya pencegahan agar bisa membangun kembali semangat dalam menuntut ilmu yang bisa mengembalikan potensi akademik menjadi lebih baik. Cara menangani culture shock tersebut ialah dengan cara berikut:

  • Menerima kenyataan terhadap lingkungan barunya tersebut.

Dalam menangani sebuah culture shock, hal pertama yang harus dilakukan ialah menerima sebuah kenyataan yang sebenarnya. Bahwa kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Tentu saja hal ini tidaklah mudah untuk diterima. Namun berangsur-angsur lamanya, pasti akan terbiasa menghadapi gegar budaya tersebut dan bisa menjalani harinya seperti biasa.

  • Selalu berpikir positif dan terbuka

Ketika kita punya pikiran negatif terhadap sesuatu yang sudah pasti akan menimbulkan dampak buruk, maka hal tersebut harus dihindari. Mulailah berpikir positif terhadap kondisi lingkungan baru yang kita alami. Karena tidak semua budaya di lingkungan tersebut buruk. 

Berpikiran terbuka juga perlu untuk diterapkan karena akan membuat kesediaan diri kita untuk menghadapi budaya-budaya baru. Kita hanya perlu mengerti dengan baik terhadap situasi di lingkungan kita, lalu menyesuaikan dengan diri sendiri.

  • Ikut serta dalam kegiatan kampus

Cara mengatasi dampak buruk terhadap culture shock juga bisa dihindari dengan turut serta dalam kegiatan kampus. Hal ini tentu akan menambah relasi dan wawasan terhadap budaya yang ada di lingkungan baru tersebut yang tentunya akan menambah motivasi kita untuk bisa membangun kembali semangat menuntut menuntut ilmu dalam dunia baru di lingkungan kampus. 

Manfaat lainnya juga kita bisa merasakan sendiri terhadap dunia baru karena secara tidak langsung kita turut terlibat merasakan sendiri budaya yang ada di lingkungan baru.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa culture shock merupakan suatu hal yang wajar dirasakan oleh mahasiswa baru. Sudah sepatutnya dampak dari culture shock atau gegar budaya harus dihindari dengan cara pencegahan yang sudah dipaparkan oleh penjelasan di atas. Jika memungkinkan, bisa melakukan konsultasi dengan ahli psikologi.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun