Mohon tunggu...
Leonardo Tolstoy Simanjuntak
Leonardo Tolstoy Simanjuntak Mohon Tunggu... Wiraswasta - freelancer

Membaca,menyimak,menulis: pewarna hidup.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Seindah Pelangi Senja (86)

20 April 2015   10:56 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:53 104
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
1429502000372559017

[caption id="attachment_411321" align="aligncenter" width="300" caption="Ill: flickr"][/caption]

Seindah Pelangi Senja (86)

Aleksan mengigau beberapa kali, sebelum bangun dari tidur yang lelap. Tadiperawat memberinya obat penenang, agar bisa tidur nyenyak. Aleksan membuka mata perlahan, dan melihat Nika duduk di sisi ranjang. “Oh, kamu sayang...” suara lelaki itu terdengar lebih jelas. Tampaknya kondisinya sedang membaik.

Nika tersenyum melihat papanya bangun.” Papa sudah bangun, nyenyak amat tidurnya hampir tiga jam. Papa mimpi indah terus ya.”

Aleksan menyodorkan tangannya agar dibantu duduk.

“Papa bisa duduk? Tapi...ntar perawatnya...”

“Tidak apa-apa Nik, papa lebih sehat kok sekarang apalagi kamu ada dekat papa.”

Nika membantu papanya duduk, mengambil bantal lebih tebal menopang punggung. Aleksan menghela nafas, lagi-lagi tersenyum pada Nika.

“Mama lagi pergi,Pa,” Nika memberitahu. Tapi Aleksan seperti menanggapi dingin. “Yah, papa tak yakin pada mamamu. Papa kurang diperhatiin, untung kamu sudah ada.”

Nika terkesiap.” Ah papa jangan begitu. Kok papa tak yakin sama mama, kenapa Pa.”

Aleksan terbatuk beberapa kali.” Mamamu yang sekarang bukan yang dulu lagi Nika, terutama sejak papa jatuh sakit. Mama entah kemana saja terus.”

Sebelum Nika menyahut lagi, Aleksan memandang sekeliling seperti sadar sesuatu. “Eeh, temanmu Riko kok tak ada di sini.”

Nika susah menjawab. Lama terdiam.

“Kemana temanmu Nik, kok kamu ngelamun gitu.” Aleksan menatap dengan sorot menyelidik air muka Nika.

“Mmmh, anu pa...dia ada panggilan penting tadi, buru-buru harus balik ke Medan.”

Mimik heran muncul di wajah lelaki sakit itu. Ia menggeleng-geleng kepala. “Aneh itu Nika, kamu harus berterus terang ke papa. Ya kan seharusnya begitu.”

“Nika ngomong yang sebenarnya Pa.” Nika kecut melihat tatap papanya yang seperti itu. Nika berpikir keras, apa harus beri tahu semua kepergian Riko yang tak terduga tadi. Tapi Nika menganggap lebih baik tak beritahu semua. Tapi papanya ibarat detektif Sherlock Holmes, Nika susah kalau berbohong. Ia tak tak tega papanya ada beban pikiran kalau dibohongi. Seumur-umur Nika tak pernah membohongi papanya. Beda dengan mamanya sudah beberapa kali membohongi tapi alasan terpaksa.

“Papa belum pernah kamu bohongi. Papa tau dari mata dan wajahmu itu ada yang tak beres, apa betul?’

Nika kaget. Ia merasa kepergok. Papa benar, ia selalu tahu Nika bohong atau tidak. Nika menundukkan muka.

“Papa lihat kamu seperti baru menangis. Kenapa Nik,kenapa.” Aleksan mendesak.

Nika gugup, tak tega menatap papanya yang baginya orang terbaik sedunia. Lalu didengarnya lagi papanya bertanya,” Papa ingin tau kenapa temanmu tiba-tiba pulang. Kan aneh itu, Medan Jakarta bukannya dekat. Papa ingin tau.”

Nika masih ragu, tapi akhirnya ia tak sanggup menyembunyikan fakta sesungguhnya. “ Nika juga sedih dia tiba-tiba pergi,Pa. Nika sungguh sedih.”

Aleksan menatap Nika melekat lebih melekat. “Nah, papa tak mau anakku tersayang sedih, papa pengen kamu bahagia, tak boleh ada yang menghalangi keinginanmu. Semua yang papa miliki tak berarti apapun tanpa kebahagiaanmu. Mamamu juga tak boleh. Papa tegas itu Nik.”

Nika terharu mendengarnya.”Terima kasih Pa. Nika juga sayang bangat papa.”

Aleksan mengusap tangan Nika.” Nah, sekarang katakan saja sejujurnya, kenapa temanmu Riko itu kamu bilang pergi. Jangan-jangan mamamu gara-garanya.”

Tepat sekali prediksi papanya. Nika terdiam. Kemudian mengangguk.” Ya Pa, Nika juga menduga begitu Pa. Mama yang suruh dia pergi.”

Wajah Aleksan menyorotkan kemarahan yang tertahan. “Papa sudah duga itu, papa tau siapa dan bagaimana mamamu yang tak pernah bersyukur dengan apa yang dia miliki. Mamamu orangnya terlalu egois dan tinggi hati. Papa kecewa sekali Nika. Kecewa sekali.”

Nika khawatir terjadi apa-apa pada papanya. Ia berdiri memegang bahu papanya, takut papanya tiba-tiba lengser. Tapi itu tak terjadi. Papanya cukup sehat dan tegar. “Papa gak apa-apa Nik, papa hanya merasa disakiti mamamu.” Bola matanya berkaca-kaca. Nika jadi sedih, menyesal papanya tertekan bathin memikirkan mamanya.

Lalu, Aleksan bicara perlahan: Papa selama ini perhatikan mamamu bersandiwara seolah peduli penyakit papa. Tapi mamamu salah kalau dia anggap papa tak tahu tindakannya di luar sana. Papa punya perasaan, feeling, papa tak mudah dibohongi siapa pun. Papa tau mamamu ada neko-neko dengan Rudy,ya dengan Rudy. Papa tak berdaya, dan papa diamkan saja, menunggu saatnya ambil tindakan.”

“Jangan Pa, papa harus tenang Pa,” Nika mencegah papanya dilanda amarah. Tak sadar Nika juga sudah menangis. Air mata jatuh ke piyama papanya.

“ Papa akan bertindak,” papanya mendesis, tubuhnya gemetar. Nika menyangga tubuh papanya jangan sampai terjatuh.

“Jangan sekarang Pa, plis pa dengarin Nika, yang penting papa sehat, jangan perdulikan mama, papa harus sehat. Nika tak mau papa kenapa-kenapa.”

Aleksan mengendurkan remasan jemarinya pada selimut. Didekapnya Nika ke bahunya.” Ya, kamu benar sayang, papa harus sehat demi kamu. Tapi papa tak mau kamu sedih karena mamamu mengusir Riko. Papa pernah jatuh cinta, dan papa tau bagaimana orang yang jatuh cinta. Papa tak perduli siapa yang nanti akan memilikimu,papa tak pernah mengukur orang dari status, yang penting bagi papa kamu harus bahagia karena menyayangi dia. Harta papa yang banyak tak berarti apa-apa kalau anakku tak bisa merasa bahagia dengan pilihannya. Papa lebih baik menghukum mamamu karena kesalahannya daripada membiarkanmu tersiksa karena dia. Papa bersumpah mengutamakan kamu, Nika.”

Haru, sedih, bangga, campur aduk di dada Nika mendengarnya. Diciumnya kening Aleksan dengan perasaan mengharu biru. “Terima kasih Papa, terima kasih. Nika memang sedang jatuh cinta, dan cinta Nika hanya buat dia, tak ada lagi yang lain. Tidak juga dengan Rudy yang mama bilang mau menggantikan Gito. Nika tak mau Pa.”

Wajah Aleksan tegang mendengarnya. Matanya mengkelebatkan kemarahan yang timbul di benak.

“Ya, papa mengerti itu Nika, papa kan sudah bilang kalau papa mendukung apapun pilihanmu. Papa tak akan mentolerir keinginan mamamu yang sudah kelewat batas. Sungguh perempuan sudah kehilangan moral. Mamamu ambisius joint bisnis dengan Rudy, papa tau itu. Papa tau ada apa di antara keduanya. Mamamu pasti sudah selingkuh saat papa sakit. Lalu orang selingkuhannya mau diumpankan pada anak sendiri. Itu biadab, Nika, sangat biadab.”

Nika menenangkan papanya, takut sakit jantungnya kambuh seketika.” Sudahlah Pa, yang penting buat Nika papa sudah mendukung Nika, dan Nika sudah percaya diri. Terima kasih ya papa. Boleh aku panggilkan lagi Riko datang ya Pa?”

Aleksan meremas tangan anak semata wayangnya.” Ya papa ingin bicara lagi dengan dia. Bila perlu kamu jemput dia ke Sumatera, papa dukung semuanya. Kapan Nika mau pergi papa siapkan berapa pun biaya kamu butuhkan. Itu ada chek papa dalam tas, ambilkan Nik.”

“Tak usah dulu Pa, biar Nika coba hubungi dulu Riko dari ponsel.”

Tapi berulang kali Nika meng-call Riko tetap saja nomornya tak aktif atau di luar jangkauan. Nika tidak akan tahu saat itu Riko sudah langsung berangkat naik mini bus ke Parapat. Ponsel Black Berry nya lowbat, tak sempat dicharger. Riko bingung saat mini bus KBT itu sudah melaju meninggalkan Medan. Ia tahu Nika pasti menelpon. Riko menyesal ponselnya tak bisa aktif.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun