Mohon tunggu...
Kosmas Lawa Bagho
Kosmas Lawa Bagho Mohon Tunggu... Auditor - Wiraswasta

Hidup untuk berbagi dan rela untuk tidak diperhitungkan, menulis apa yang dialami, dilihat sesuai fakta dan data secara jujur berdasarkan kata hati nurani.

Selanjutnya

Tutup

Money

Manajemen Karier, Kinerja, dan Retensi Individual dalam Bisnis

26 Oktober 2017   10:19 Diperbarui: 26 Oktober 2017   10:28 4979
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp


Pengembangan kinerja biasanya diawali dengan visi dan misi yang akan mengetahui dengan jelas sasaran perusahaan dan kompetensi SDM yang dibutuhkan. Setelah penetapan sasaran maka ditetapkan juga standar kinerja dan standar kompetensi individual sehingga didapatkan komitmen pengembangan kinerja. Pengembangan kinerja juga fokus pada pengukuran kinerja masing-masing level karyawan. Pengukuran kinerja meliputi tanggungjawab, tugas dan standar.

Proses pengembangan retensi individual di dalam perusahaan banyak diulas Mathis dan Jackson (2009) dalam Murti Sumarni (2011) mengatakan bahwa budaya dan nilai perusahaan (organisasi) sangat mempengaruhi karyawan dalam memutuskan apakah bertahan atau meninggalkan pekerjaan pada perusahaan tertentu.


Budaya organisasi adalah pola nilai dan keyakinan bersama yang memberi arti dan peraturan perilaku bagi anggota (karyawan) perusahaan. Nilai perusahaan yang mempengaruhi keinginan karyawan untuk bertahan adalah kepercayaan.


5  Faktor Penghambat dan Solusi Manajemen Karier, Kinerja dan Retensi Individual

Hidup dan kehidupan tidak akan dinamis tanpa ada tantangan atau persoalan. Persoalan atau tantangan memiliki bumbu tersendiri untuk memacu adrelin meningkatkan karier, kinerja dan retensi individual, yang penting perusahaan pandai memenej dengan cerdik dan bijaksana. Albert Einstein menulis, "Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tidak pernah mencoba sesuatu yang baru".


Pengembangan karier, kinerja dan retensi individual memiliki tujuan dan manfaat yang mulia bagi karyawan dan perusahaan. Akan tetapi dalam perjalanan atau prosesnya terdapat faktor penghambat atau tantangan. Siagian (2014) menyorti cukup jelas faktor penghambat atau tantangan pengembangan karier, kinerja dan retensi individual antara lain: perusahaan sukar menysun suatu rencana karier bagi para pegawai untuk jangka waktu yang jauh ke depan; memerlukan biaya yang besar untuk menyelenggarakan berbagai jenis program pelatihan dan pengembangan bagi semua pegawai yang akan mengalami promosi.


Lebih lanjut, Siagian menegaskan bahwa faktor penghambat lainnya adalah perencanaan karier dipandang sebagai urusan dan kepentingan para pegawai sendiri dan bagian pengeloa sumber daya manusia (SDM) hanya berkewajiban untuk membantu para pegawai (bisanya terjadi pada perusahaan-perusahaan kecil); perlakuan yang tidak adil dalam berkarier (kriteria promosi tidak berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang objektif, rasional dan diketahui secara luas dikalagnan pegawai); kurang keedulian atasan langsung memberikan umpan balik kerja karyawan sehingga karyawan kurang mengetahui potensi dan kompetensi diri yang dimiliki; kurangnya minat pribadi para karyawan untuk promosi karier serta perbedaan tingkat kepuasan pribadi karyawan dalam meniti karier di dalam perusahaan.


Sementara itu Mathis dan Jackson (2010) melihat bahwa tantangan yang dihadapi karyawan pada perusahaan adalah ketidakpuasan kerja akibat hubungan yang tidak harmonis dengan manajemen puncak dan sesama karyawan; ketiadaan pengakuan dan keterbatasan pencapaian karier yang lebih tinggi; pembayaran salari yang tidak konsisten dan tidak kompetitif; kebosanan pada pekerjaan (kerja hanya sebagai rutinitas bukan sebuah aktualisasi diri); kualitas dan gaya kepemimpinan manajemen puncak yang rendah serta bos yang tidak baik (bad bosses); adanya perlakuan tidak adil dan diskriminatif; tidak adanya penghargaan pada kinerja, adanya pengurangan karyawan, PHK, merger perusahaan dan akuisisi.

Hal-hal ini akan sangat mempengaruhi karier, kinerja dan retensi karyawan pada perusahaan atau lembaga bisnis. Untuk itu, solusi yang ditawarkan adalah perusahaan-perusahaan perlu mengoptimalkan potensi dan aset perusahaan terutama kualitas dan kompetensi SDM baik individu maupun kelompok sembari hal-hal yang menjadi tantangan (faktor penghambat) diubah menjadi peluang. Bagi individu karyawan, perlu peningkatan kompetensi searah dengan peningkatan kualitas impian masa depan dalam berkarya dan mengabdi di dalam perusahaan tertentu.

Daftar Rujukan

Galbraith Kennet John dalam Anthony Robbins. 2014. Unlimeted Power terjemahan Iryani 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun