Kedua kaki jenjang Arlita menjejak pasir putih. Gaun putihnya berkibaran. Hamparan laut luas melukiskan deru ombak. Wanita cantik itu berjalan di bentangan pasir. Sejenak menikmati me time.
Me time, sesuatu yang sangat mahal di tengah serbuan notifikasi dan tingginya rutinitas. Melepaskan diri dari gadget sungguh tak merugikan, walau untuk sesaat. Itulah yang terpikir di benak Arlita pagi ini. No sosmed, no urusan butik, no grup sosialita. Kecuali...
"Tuk terakhir kali...kau lebih, kau lebih, lebih dari dari sekedar cantik."
Sebuah suara barithon bernyanyi lembut. Diikuti gesekan biola. Refleks Arlita memutar tubuh. Ia terpana melihat Abi Assegaf bermain biola, melayangkan tatapan ke arahnya.
"Mau me time kok masih lirik-lirik ke belakang?" goda Abi Assegaf, pelan mencubit hidung istrinya.
Wajah Arlita memerah. Direbutnya biola putih milik suaminya, lalu ia berlari kecil menjauh. Jangan remehkan Abi Assegaf saat sakit. Pagi itu, kondisinya cukup fit untuk mengejar dan menangkap pinggang Arlita. Seperti anak kecil, keduanya menjatuhkan diri di pasir. Senyuman dan canda menemani. Pikir mereka, jangan sampai Adica dan Syifa melihat tingkah absurd Abi-Umminya.
Bukan, bukan Adica dan Syifa yang melihat. Tetapi Calvin. Pemuda tampan berkacamata itu tersenyum-senyum memperhatikan dari jauh. Andai saja tak ada pesan yang harus disampaikannya, Calvin tak ingin merusak momen mereka.
Betapa kagetnya Abi Assegaf dan Arlita mendapati Calvin berdiri di dekat mereka. Cepat-cepat keduanya bangkit dan menghampiri pemuda itu.
"Abi, Ummi, ada John Riantama di rumah."
Pesan yang dibawa Calvin jauh lebih mengagetkan. Sepasang suami-istri Non-Native itu berpandangan. Perasaan mereka bergolak dengan kecemasan. Calvin melanjutkan.
"Katanya, keluarga Riantama memanggil Abi dan Ummi. Makanya John Riantama datang menjemput..."