Macao International Airport, mereka datangi. Mengedarkan pandang ke sekeliling, Silvi mulai resah. Sudah tepatkah destinasi wisata kali ini?

Calvin tersenyum menawan. Memegang halus tangan Silvi. "Yakin, Clara. Selama ini kamu hanya melihat Macao dari sisi negatifnya."
Menatap sangsi suami super tampannya, Silvi menggandeng tangan Calvin. Mereka berdua meninggalkan bandara. Tujuan pertama mereka adalah Mosquita de Macao, satu-satunya masjid di Macao. Traveling boleh saja, namun ibadah nomor satu.
Taksi membuat Calvin merasa eksklusif. Sebagai gantinya, ia ajak istrinya naik bus. Akses transportasi cukup mudah di sini. Selain mudah, nyaman pula.
"Wow...!" desah Silvi kagum. Terkesan pada bangunan bersejarah dengan arsitektur perpaduan Portugis yang memikat.
"Indah, kan? Sudah kubilang, Silvi. Kamu takkan menyesal." ujar Calvin.
"Tapi...masih ada lagi yang kukhawatirkan. Calvin, bagaimana dengan makanan halal? Di sini pasti tidak banyak." ungkap Silvi.
"Jangan khawatir, Love. Di sini kita bisa menemukan restoran halal. Nanti aku ajak kamu ke Loulan Islam Restaurant. Egg tart, Galinha a Africana, dan Plate of Clams juga halal untuk kita." Calvin berkata menenangkan.

Dari Mosquita de Macao, mereka pergi kee Hotel Venetian. Di hotel mewah itulah mereka akan menginap. Satu malam penuh kemewahan di Las Vegasnya Asia itu.