Apa itu New Media ?
New media jika dilihat dari arti bahasa inggrisnya berarti “Media Baru”, yang terdiri dari aplikasi-aplikasi seperti twitter, Instagram, Telegram, Whatsapp, Signal, hingga Youtube. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita telaah dulu apa itu New Media. New media adalah sebuah media yang memfasilitasi interaksi antara pengirim dan penerima. New media ini memiliki keunggulan, yaitu sifatnya yang realtime, dimana masyarakat dapat mengakses informasi dan layanan yang cepat, kapan dan dimana saja selama mereka terkoneksi dengan perangkat terkomputerisasi dan jaringan internet (Puspita, 2015, h. 206).
Rasisme dan Gerakan Sosial
![Ilustrasi rasisme. Sumber: Bola.com](https://assets.kompasiana.com/items/album/2021/12/10/007438100-1591463687-ilustrasi-rasisme-61b2cb4c75ead652b11353d2.jpg?t=o&v=770)
Rasisme masih sering ditemui khususnya di negara kita, Indonesia. Beberapa kasus rasisme yang terjadi seringkali memunculkan sebuah gerakan sosial, baik itu dalam kehidupan nyata maupun media sosial atau new media. Dalam Martin (2021, h.432) dijelaskan bahwa pengertian dari gerakan sosial itu sendiri merupakan sebuah kegiatan dimana seseorang bekerja sama untuk membawa perubahan sosial. Dalam gerakan sosial ini konfrontasi seringkali digunakan sebagai sebuah strategi untuk menyoroti ketidakadilan dari sistem pada saat itu.
Gerakan sosial ini dilakukan tanpa menggunakan kekerasan, dan harus dilakukan secara konsisten, seperti yang diungkapkan Martin Luther King dalam Martin (2021, h. 433), bahwa penentang non-kekerasan dimana dalam hal ini adalah pelaku gerakan sosial harus sering mengungkapkan protesnya melalui non-kooperasi atau boikot untuk membangkitkan rasa malu moral pada lawan. New Media juga memiliki peranan terhadap gerakan sosial tersebut, seperti yang dinyatakan oleh Marlowe,et.al dalam Guido (2021, h.513) yaitu untuk membuat, memelihara dan mengintensifkan jaringan dan hubungan, hingga menormalkan interaksi sehari-hari sebagai 'sarana penting untuk terlibat secara sosial'.
Kasus Peristiwa Rasisme Terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya
![Massa mengepung AMP. Sumber: Cnnindonesia.com](https://assets.kompasiana.com/items/album/2021/12/10/9cb8d12d-2fb5-452b-9580-44c0a71f7266-169-61b2ccac62a70444f85b7403.jpeg?t=o&v=770)
Dampak Peristiwa Tersebut di New Media
Selain di dunia nyata, peristiwa tersebut juga menghebohkan new media, salah satunya adalah media sosial twitter. Di twitter, banyak masyarakat baik itu masyarakat Papua atau masyarakat luar Papua menyuarakan tagar #KAMIBUKANMONYET sebagai tanda kepedulian mereka terhadap peristiwa rasisme dan diskriminasi tersebut. Tagar ini ramai hingga sempat menjadi top hashtag secara konsisten selama beberapa hari.
Selain menunjukkan rasa peduli, tujuan dari ramainya tagar ini tentu saja untuk memperjuangkan keadilan bagi masyarakat Papua yang disebut mirip monyet oleh pelaku rasisme dan diskriminasi. Pengguna tagar ini membuat cuitan, foto, hingga ilustrasi untuk memperkuat penekanan tagar ini dan membangunkan jiwa sosial dan hati nurani orang lain agar menghilangkan perbuatan rasisme terhadap mereka, utamanya menghilangkan penyebutan mirip monyet lagi kepada mereka.