Saya mengagumi Ahmad Dhani sebagai musisi. Karyanya luar biasa. Betapa kecerdasan mengolah nada membuat nyaris semua lagunya saat menggawangi dewa laris di pasaran.
Bukan cuma musik yang asyik,tapi lirik bertema cintanya pun bikin klepek -klepek hati.
Kangennya bikin haru biru,separuh nafasnya bikin baper dan segudang lagu cintanya yang selalu nge-hits di masa silam. Saya masih menyimpan beberapa album kasetnya.
Entah karena kisah cinta segitiganya terungkap perlahan karir bermusik nya memang meredup. Tak lama satu persatu masalah menimpa dirinya. Namun toh dia masih terlihat berdiri tegap dengan msih menjadi juri beberapa realty show mencari penyanyi. Dan penikmat Musik masih mengapresiasi hadirmu Dhani.
Terlepas dari kehidupan pribadinya yang bikin gerah karena penuh kontroversi,saya masih menyukai karakternya sebagai musisi.
Entah kapan dia mulai melirik dunia politik. Dari mulai memilih ukuran Pilkadakah? namun kekalahan tak membuatnya mundur dari panggung politik sepertinya. Justru dia seperti semakin mencari Kiblat berpolitik.
Setahu saya Dhani dulu penggemar Gus Dur, namun entah mengapa semakin kesini pilihannya semakin menyempit menjadi seolah pengusung keras pemahaman suatu agama.Â
Apa karena secara ekonomi dia sudah kehilangan isi sementara inspirasi menciptakan lagu semakin menjauh sehingga dia coba mencari peruntungan di dunia politik?
Di situ saya mulai hilang respect padanya. Apalagi karakternya menjadi semakin liar terlihat. Setiap kalimat yang keluar darinya tak lagi bernada  indah. Lidahnya  menghasilkan kalimat pedas dan tak nyaman didengar pihak yang dia jadikan lawan.
 Hingga pada akhirnya ulah Dhani menjeratnya pada kasus penyebar ujarn kebencian. Dan diapun harus merasakan dinginnya lantai penjara selama 1,5 tahun meski sekarang dia masih berupa mengajukan banding.
Andaikan saja Ahmad Dhani tetap berjalan di Dunia musik, penduduk negeri ini masih bisa menyukainya. Namun karena dia memilih politik , maka inilah buah yang harus dia petik.