Mohon tunggu...
Lalu PatriawanAlwih
Lalu PatriawanAlwih Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa - Postgraduate Universitas Mercubuana

Lalu patriawan Alwih - NIM : 55522110029 - Jurusan Magister Akuntansi - Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Universitas Mercu Buana - Mata Kuliah Pemeriksaan Pajak - Dosen Pengampu : Prof. Dr. Apollo.M.Si.AK.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Menelaah Pengaruh Kesadaran Diri Terhadap Kepatuhan Pajak : Perspektif Diskursus Hawkins dan Cooper

30 Mei 2024   16:52 Diperbarui: 30 Mei 2024   17:01 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumen pribadi penulis

Selain itu, kesadaran diri publik juga dapat memicu rasa malu atau rasa bersalah jika individu melakukan tindakan yang dianggap tidak etis atau melanggar norma sosial. Dalam konteks perpajakan, rasa malu atau rasa bersalah ini dapat mendorong individu untuk lebih patuh dalam membayar pajak agar tidak dicap sebagai warga negara yang tidak bertanggung jawab.

Implikasi Diskursus Hawkins dan Cooper

Diskursus Hawkins dan Cooper (1998) memberikan kontribusi penting dalam memahami faktor-faktor psikologis yang memengaruhi kepatuhan pajak individu. Dengan memahami peran kesadaran diri, baik privat maupun publik, pemerintah dan otoritas perpajakan dapat mengembangkan strategi dan program yang lebih efektif untuk meningkatkan kepatuhan pajak.

Misalnya, pemerintah dapat melakukan kampanye edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri privat masyarakat tentang pentingnya membayar pajak. Kampanye ini dapat menekankan pada nilai-nilai moral, tanggung jawab warga negara, dan manfaat pajak bagi pembangunan infrastruktur dan layanan publik. Dengan meningkatkan kesadaran diri privat, diharapkan masyarakat akan lebih termotivasi secara intrinsik untuk patuh dalam membayar pajak.

Di sisi lain, pemerintah juga dapat mengembangkan strategi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri publik masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan mempublikasikan informasi tentang individu atau perusahaan yang tidak patuh dalam membayar pajak. Hal ini dapat memicu rasa malu atau rasa bersalah di masyarakat, sehingga mendorong mereka untuk lebih patuh agar tidak dicap sebagai warga negara yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan insentif atau penghargaan kepada wajib pajak yang patuh sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan publik. Hal ini dapat meningkatkan kesadaran diri publik masyarakat dan mendorong mereka untuk lebih patuh agar mendapatkan pengakuan positif dari masyarakat.

Namun, penting untuk diingat bahwa strategi peningkatan kepatuhan pajak harus disesuaikan dengan konteks budaya, sosial, dan ekonomi masing-masing negara. Pendekatan yang efektif di satu negara belum tentu dapat diterapkan secara langsung di negara lain. Oleh karena itu, diperlukan penelitian dan analisis lebih lanjut untuk mengadaptasi diskursus Hawkins dan Cooper sesuai dengan kondisi lokal masing-masing negara.

Dokumen pribadi penulis
Dokumen pribadi penulis

Contoh Studi kasus terkait dengan artikel ini

Studi Kasus 1: Kampanye Edukasi Pajak di Negara X

Pemerintah Negara X telah menghadapi tingkat kepatuhan pajak yang rendah selama beberapa tahun terakhir. Setelah mempelajari diskursus Hawkins dan Cooper (1998), pemerintah memutuskan untuk meluncurkan kampanye edukasi pajak yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri privat masyarakat tentang pentingnya membayar pajak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun