Mohon tunggu...
Laila AnjasariHarahap
Laila AnjasariHarahap Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Laila Anjasari Hrp

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Analisis Cerpen Purnama di Atas Pura Karya Wayan Sunarta dengan Pendekatan Pragmatik

9 Juni 2021   18:39 Diperbarui: 9 Juni 2021   18:50 4417
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Aku segera meninggalkan kedai. Gadis itu teriak-teriak memanggilku sambil mengacungkan uang kembalian, aku tidak menghiraukannya.

Udara pantai berhempus menerpa daun-daun pandan. Cahaya purnama berpendaran di hampar air. Kami duduk di pasir putih. Dulu ketika bocah aku suka sekali mencari kerang aneka warna di pantai ini.

"Kau sudah dewasa sekarang. Rasanya baru kemarin kau mencuri mangga di kebunku. Apa kau sudah menikah? Kerja di mana sekarang?"

Lelaki tua itu menghujaniku dengan kenangan-kenangan masa kecil dan berbagai pertanyaan basa-basi. Aku menjawab seperlunya saja. Meski aku memang pernah mencuri mangganya, tapi aku tidak terlalu akrab dengan kawan ayahku ini. Aku terkenang cerita Ibu tentang kebiasaan kawan-kawan Ayah. Mungkin lelaki ini salah satu kawan Ayah yang suka minum kopi sambil ngobrol berlama-lama di rumah kami dulu.

"Pak, saya ke sini mencari kuburan ayah saya. Apa Bapak tahu di mana ayah saya dibunuh dan dikubur saat gestok dulu?" Aku langsung menyasar pada pokok permasalahan yang memang khusus kubawa dari Jakarta. Lelaki tua itu nampak tenang mendengar pertanyaanku, meski sesekali ia melirik kiri-kanan. Setelah menarik nafas, ia mulai berkisah tentang Ayah dan hari-hari akhir kepergian Ayah.

"Ibumu memang menyuruhku menemuimu untuk membuka rahasia yang bertahun-tahun kami simpan dengan penuh luka. Memang, aku berkawan akrab dengan ayahmu. Kami satu regu saat gerilya melawan Nica dulu. Kami sama-sama mengagumi Bung Karno. Ayahmu orang yang cerdas dan berpikiran luas, terlebih lagi ia sangat menyukai kesenian," lelaki tua itu terdiam sejenak seperti berusaha mengumpulkan ingatannya. Kemudian...

"Saat itu, ayahmu jadi ketua kelompok janger di desa ini. Kami biasa kumpul-kumpul di rumahmu membicarakan pementasan yang akan digelar. Dan pada malam naas itu kami dikepung, dan ayahmu diberangus...," tutur lelaki tua itu dengan nada diliputi kesedihan yang dalam.

Aku mendengarkan dengan seksama. Sebelumnya aku sudah cukup banyak mendengar kisah korban tragedi '65 yang serupa ini. "Bapak tahu di mana kuburan Ayah?" tanyaku tidak sabar.

Lelaki tua itu mengangguk pelan. Jantungku berdebar seperti sedang menanti vonis hakim. "Di mana kuburan Ayah?!" desakku.

"Di pelaba pura, tidak jauh dari beringin yang tumbang itu. Mereka ditumpuk dalam satu lubang!"

Aku merasakan langit malam penuh awan tebal runtuh menerpaku. Aku tidak kuasa menyembunyikan kekagetan. Jadi, Ayah dan kawan-kawannya yang dituduh komunis dibantai dan dikubur di tanah pelaba pura!? Berarti dulu selama aku bermain di situ, aku sangat dekat dengan Ayah. Mengapa Ibu bilang Ayah pergi ke bulan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun