-putriwk-
Di pesisir kendali mengitari jejak
Bergandeng ombak yang enggan tegak
Tarian gemulai pohon kelapa, lenggokkan daunnya dengan leluasa
Ditambahi alunan nada anak-anak burung yang baru saja bisa bersuara
Pun permainan opera, sajian dari nelayan yang tengah berlayar tanpa pertimbangan beban
Tiada cacat dari suguhan semesta
Namun, ia tetap saja tertunduk memikirkan cara terlaju meregang nyawa
Tiba-tiba, tidak butuh aba-aba lama
samudra berseru: "ikutilah sayembara tertayang, siapa cepat tenggelam, dialah pemenang"
jiwa setengah mati itu mengarah timur
Sigap berpamitan, siap karam pada palung terdalam
Menaklukan tuntutan binasa di dasar lubuk kan disemayam
Sebelum ceburkan nyawa, ia menghela udara dalam-dalam
Seusai dikira-kira, ia embuskan segala rasa lebam
Inilah nafas kali terakhir, sebelum rongga dadanya dipenuhi air
Jiwa setengah mati kini mengarah barat
Mata yang telah sedia pupus kini membelalak
Tak pernah tertebak, sudah KALAH TELAK!
Pikirnya untuk mati terlewat banyak mengukir sajak
Tak jadi memaut di hamparan pangkuan laut
Jiwa setengah mayat itu hampir menantang lembah ufuk untuk ribut
Sayang, tak jadi manusia buntu petang ini
Terlanjur merugi gesitnya pacuan si jiwa hampir mati
Terpaksa, meski goyah, hidup kan lanjut, merotasi hari-hari
Sebab sampai tak bertuannya dunia nanti
Jawara dari perlombaan tercepat meraup benam ini
Ialah senja yang sengaja dikutuk pandai menghilang di punggung pantai
Diimingi bias sketsa rembulan, pertanda waktunya penghuni bumi menata damai.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI