(oleh: Lady Hafidaty Rahma Kautsar)
Kebijakan pemerintah untuk mensosialisasikan bahayanya plastik pada lingkungan dan pemanasan global, secara nyata dilakukan melalui tindakan preventif, yakni mengenakan Rp200 untuk penggunaan plastik belanjaan di pasar-pasar modern. Nilai Rp200 demi sebuah plastik dipersepsikan orang berbeda-beda, tergantung kepekaan orang terhadap lingkungan, kebutuhan akan wadah, tingkat kebutuhan berhemat maupun daya beli, dan lain-lain.
Kenyataannya, dalam kacamata orang yang berbelanja, sebuah wadah semacam plastik merupakan pokok untuk membawa belanjaan yang banyak. Butuh sebuah terobosan, baik barang, alat maupun cara atau sistem, yang dapat menjadi subsitusi mengurangi plastik.
Kita butuh wadah yang dapat berkali-kali dipergunakan, tetapi tidak mencemari lingkungan, itulah esensinya. Namun bagaimana membuat wadah seperti itu yang menarik, dan mudah digunakan, serta dibawa?
Bagaimana jika melihat gambar seperti diatas? Terlihat seperti blueberry mainan, bukan? Tetapi setelah blueberry 7x7cm ini dibuka, kita dapat menggunakannya sebagai wadah belanjaan yang cukup besar (lihat gambar bawah). Keuntungan tas belanjaan seperti ini ialah menarik perhatian terutama anak-anak (interesting), mudah dimasukkan ke dalam tas (easy to bring), penggunaanya pun ramah pengguna (user friendly). Dari segi harga memang lebih dari Rp200, tetapi dengan dapat dipergunakan berkali-kali akan memberikan keuntungan lebih nyata.
Sistem
Secara praktis, sistem untuk penyebarluasan penggunaan subsitusi barang ini, yang lebih saya suka sebut Subsitusi Plastik Ajaib (SPA) dapat bermacam-macam. Pertama, menjualnya sebagai subsitusi plastik di pasar-pasar modern maupun tradisional, yang jika pemerintah berkenan diberikan dukungan berupa subsidi, sehingga lebih murah. Kedua, tiap pembelanjaan barang sekian rupiah, mendapatkan SPA. Ketiga, setelah secara berkala dilaksanakan, penggunaan plastik (yang lama-lama habis stoknya) dihentikan, dan disubsitusi (diganti) dengan SPA ini. SPA pun akan lebih baik jika dibuat melalui bahan ramah lingkungan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI