Kekalahan Setan Merah 0-3 di Old Trafford dalam pertandingan derby lanjutan kompetisi Liga Inggris sungguh memperpanjang rekor buruk dan “tidak lazim” bagi tim sebesar Manchester United.
Memiliki rekor kalah 10 kali dalam 31 pertandingan bukanlah hasil yang menggembirakan bagi tim sekelas MU. 6 dari yang 10 itu justru mereka ciptakan di kandang sendiri. 4 dari yang 6 mereka hasilkan ketika ketemu tim-tim 6 besar klasemen saat ini. Dan tentu yang lebih membuat sesak para fans, 1 dari yang 4 itu adalah Everton, tim yang notabene pernah dilatih oleh orang yang saat ini membesut MU. Ini salah satu indikator bahwa MU memang benar-benar sedang ”kalah kualitas”.
Sebagai penggemar sepak bola tanpa pernah fanatik terhadap salah satu klub melainkan pelatih yang menangani, dan rasa rindu terhadap permainan MU di era Fergie, saya terus mengumpulkan “mungkin” sebanyak-banyaknya untuk mencari “benang merah” pada si Setan Merah.
1.Mungkinkah bathin para pemain MU sedang merasakan angan sentuhan Fergie sedangkan lahiriyahnya merasakan tangan sentuhan Moyes. Ini menyebabkan tidak nyambungnya pikiran dengan gerak fisik
2.Mungkinkah para pemain MU sejatinya tidak setuju dilatih Moyes, tetapi “memaksakan” setuju karena Moyes juga referensi Fergie, sehingga para pemain berfikir bahwa patuh terhadap Moyes sejatinya mereka sedang patuh kepada Fergie. Ini menyebabkan kepatuhan semu pemain terhadap pelatih.
3.Mungkinkah para pemain MU benar-benar sedang tidak percaya kepada racikan Moyes, sehingga mereka “main hakim” sendiri saat di lapangan. Bermain dengan naluri dan insting sendiri tanpa menghiraukan pelatihnya.Ini jelas berakibat tak ada koordinasi antar lini permainan MU.
4.Mungkinkah, sejatinya saat ini para pemain MU dengan segala keikhlasannya benar-benar mendengarkan dan mentaati semua “syiar” Moyes. Dengan dilandasi rasa keyakinan yang tinggi akan racikan Moyes, mereka berikhtiar untuk dan telah menterjemahkannya di lapangan. Ibarat prajurit, sesungguhnya mereka sedang berucap “siap” kepada komandannya.
Jika poin ini yang benar terjadi maka sesungguhnya “benang merah” ketidak lazimnya perjalanan MU mengarungi kompetisi sudah bisa ditemukan, dan itu artinya faktor utama rekor buruk MU ada pada Moyes. Strategi Moyes tidak berhasil menembus kokohnya persaingan Liga Inggris, paling tidak untuk saat ini.
Fokus di Liga Champions agar para pemain tetap betah di MU karena dengan juara Liga Champions tahun ini berarti terbuka lebar kesempatan tetap bermain di kejuaraan tahun depan. Mungkin hanya itu asa yang boleh dijanjikan kepada para fans.
Apa pun yang sedang terjadi di MU, tentu menggantikan Moyes pada 2/3 kompetisi bukanlah solusi yang terbaik. Rasanya juga mustahil para fans MU akan membuat “petisi” untuk memohon kepada manajemen guna mengantikan Moyes saat ini, sama mustahilnya para fans untuk “berpetisi” agar Moyes jangan mencalonkan diri menjadi pelatih nasional Inggris. Atau dengan kata lain, fans akan katakan kepada Moyes untuk tetaplah pimpin tim kami hingga kompetisi ini berakhir dan tegas untuk katakan “tidak” seandainya ada yang menawari memimpin Skuad Nasional Inggris.
Salam.....KSL
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H