Teringat di era 90-an, segerombolan mahasiswa berjalan kaki berbondong-bondong ke kampus dengan berbagai mimik wajah masing-masing.
Saya juga demikian waktu itu. Untungnya kontrakan dekat gerbang kampus.
Berbeda dengan mereka yang sebagian besar lumayan jauh jaraknya.Â
Salut, tetap bersemangat berjalan kaki menuju kampus. Sesuatu yang luar biasa jika itu terjadi masa kini.
Sebelum kemudahan kredit motor ringan bak beli kacang goreng, sebelum meluasnya disrupsi komunikasi dan transportasi, kehidupan jalanan kampus semarak dipenuhi mahasiswa yang berjalan kaki.
Dan itu benar-benar saya rasakan beberapa tahun yang lalu. Ketika menyelesaikan urusan legalisir di sebuah kampus di kota dingin, Malang, terasa kehidupan jalanan kampus sepi dari pejalan.Â
Terasa asing, berjalan kaki dikepung lalu-lalang kendaraan bermotor.Â
Hanya beberapa gelintir yang terlihat. Itu pun berjalan menuju parkiran.
Proporsi mahasiswa yang berjalan kaki dan bersepeda kayuh ke kampus menurun dari tahun ke tahun.
Fenomena ini justru dilirik oleh mereka nun jauh di sana, di Kota Cardiff, Britania Raya.