Kompasianer, apakah kamu termasuk orang yang memiliki privilese sejak kecil? Mungkin datang dari keluarga berada, terpandang, orangtua memiliki jabatan penting, atau sekadar memiliki privilese tinggal di kota besar, dsb?
Apa sih artinya privilese bagimu? Apa saja keberuntungan dalam hidupmu yang kemudian membuat aktivitasmu sehari-hari terasa mudah, padahal orang lain perlu berjuang berkali lipat untuk mendapatkannya.
Atau, apakah saat ini Kompasianer sudah memiliki anak? Bagaimana cara mengenalkan konsep privilese kepada anak? Bagaimana Kompasianer mengajarkan supaya anak menggunakan privilesenya dengan bijak?
Pasca kasus Mario Dandy mencuat, istilah privilese tak lepas jadi pembahasan. Yang menarik adalah mengenai (bagaimana) mengajarkan anak tentang privilese.
Privilese dimaknai sebagai hak istimewa/keuntungan yang dimiliki oleh individu. Privilese kelas sosial, misalnya, adalah sebuah keuntungan didapat seseorang lantaran lahir dalam kelas sosial/identitas tertentu. Meski begitu, privilese tidak melulu soal kelas sosial dan kekayaan.
Kepada anak, kita bisa mengedukasi bahwa tidak semua orang memiliki cara hidup seperti yang ia alami. Perlu ada penanaman nilai empati, pengendalian diri, dan kesadaran untuk menggunakan keistimewaannya secara positif.
Nah, Kompasianer, mari bagikan cerita bagaimana caramu mengenalkan privilese kepada anak. Lalu bagaimana respons anak? Bagaimana cara ia berinteraksi dengan anak yang kurang beruntung maupun yang memiliki privilese lebih besar?
Bagikan opini, cerita, dan pengalamanmu serta tips-tips ala kamu di Kompasiana dengan menyematkan label Privilese pada tiap konten yang kamu buat.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI