
Kompasianer Samuel Henry bercerita, ia melihat sebuah poster berisikan 15 daftar game yang akan diblokir KPAI dan di bawahnya terdapat tulisan "Selamatkan anak dan cucu kita."
Poster ini membuat Samuel tersenyum kecut. Pasalnya, pada 15 daftar judul game yang disebutkan seluruhnya memang bukan untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Memang, video game adalah produk berbasis teknologi dan tentu saja ada sisi positif dan negatifnya. Namun ia mempertanyakan, mengapa hanya sisi negatif yang ditonjolkan.
Sebenarnya dalam proses produksi dan penjualan video game, ada rating tertentu yang diberikan di setiap judul. Rating inilah yang menjadi acuan apakah game tersebut layak dimainkan oleh anak atau hanya boleh jika telah melewati batas usia tertentu.
ESRB (Entertaiment Software Rating Board) adalah salah satu lembaga yang memiliki legalitas memberikan rating pada sebuah judul video game. Rating ini sebenarnya mempermudah pengawasan orangtua pada anaknya.
Selain itu, peran orang tua dalam mengawasi perkembangan menempati posisi yang sangat penting. Ada juga beberapa rekomendasi untuk orangtua sebagai panduan praktis dalam mengawasi anak bermain game, di antaranya adalah disiplin dalam jadwal dan durasi penggunaan, keseimbangan dalam penggunaan video game, batasi pemakaian antara 1-2 jam setiap hari dan upayakan menemani anak bermain video game dalam beberapa waktu.
3. Permainan Tradisional vs Gadget

Tidak bisa dipungkiri, dunia anak zaman sekarang sangat berbeda dan jauh lebih modern. Dahulu, pola permainan masih sangat tradisional dan sangat berbanding terbalik dengan permainan anak saat ini.
Menurut RM TPA II pada masa sekarang, anak-anak usia dini sudah mengenal dan bukan barang baru lagi jika gadget dipilih sebagai permainan. Dan tidak jarang orang tua yang dengan mudah memberikan gadget untuk anaknya.
Secara psikologis anak yang sering bermain gadget akan berpengaruh pada sikapnya. Anak lebih menyukai kesendiriannya daripada harus bersosialisasi dengan teman-temannya.
Melihat hal ini, RM TPA II merasa setuju jika pemblokiran game dilakukan. Memblokir game yang tidak edukatif ini dapat mengurangi kecanduan pada anak dan bisa meningkatkan prestasi belajar.