Beberapa hari ini banyak postingan di media sosial yang menyudutkan petinggi PDI Perjuangan tingkat Pusat maupun Daerah Kabupaten Cirebon.Hal ini dipicu lantaran rasa kekecewaan kubu Santi terhadap putusan DPP PDI Perjuangan perihal rekomendasi cawabup Cirebon.
Unggahan tersebut telah menuai banyak reaksi negatif dari internal maupun simpatisan partai.
Beberapa fungsionaris partai menuding Santi memprovokasi relawannya untuk melakukan pencemaran nama baik melalui medsos. Â
"Tindakan kubu santi menyikapi rekom wabup sudah off side, Â partai harus bertindak sesuai prosedur hukum yang berlaku" ujar Marto salah satu pengurus ranting partai.
Hal senada diungkapkan oleh salah satu simpatisan yang berada di wilayah Cirebon timur, Mas'ud mengatakan,Â
 "Masyarakat politik Kabupaten Cirebon semua tahu, Santi merupakan politisi yang dibesarkan melalui PDI Perjuangan yang pernah lompat pagar ke PKS dan menjadi kompetitor calon  kami saat pilkada 2018" ucapnya.
Kembalinya dia ke PDI Perjuangan secara ideologis maupun legalitas sebetulnya patut dipertanyakan, apalagi selama ini dia tidak pernah aktif pada kegiatan partai, kepentingannya  hanya mengincar rekomendasi kekuasaan. Â
"Prinsip kami tetap akan mengawal rekomendasi DPP dan akan mendorong DPC untuk menempuh jalur hukum atas pencemaran nama baik kader dan partai kami" tutupnya.
Sementara itu, pengamat politik, Wiriadi Atmaja juga turut angkat bicara menyikapi postingan kubu Santi tersebut, Â
"Saya menduga santi sedang mengalami post power syndrome, dia menyadari saat ini tak punya kekuatan politik dan basis massa yang kuat"ujarnya
Dengan beropini dimedsos kubu Santi berharap dukungan dari netizen terus mengalir dan berhalusinasi bahwa postingannya bisa merubah keputusan DPP lewat opini pembusukan yang ditujukan pada rival politiknya.