Tidak ubahnya dalam berpolitik tidak pernah salah saling tarik menarik suara atau simpatisan politik.
Sebab berpolitik sendiri sebisa mungkin menarik pengikut yang banyak. Supaya dalam pemilihan umum  karena banyaknya masa pemilih, ia kemungkinan dapat memenangkan pemilu.
Begitu pula dengan dukungan dalam berpolitik, meminta dukungan politik pada siapapun adalah kunci kesuksesan orang-orang yang akan berpolitik.
Untuk itu "relasi" politik sendiri yang berubah menjadi simpatisan politik sudah pasti diperhitungkan sebagai peta kekuatan politik.
Siapapun; termasuk mereka yang digadang-gadang sebagai para calon presiden Indonesia 2024 yang sudah mulai bermunculan gerakan politiknya saat ini.
Maka berkaca dengan gerakan politik yang baru-baru terjadi, dimana ada beberapa tokoh nasional yang bergerak berpolitik mencari simpatisan dan dukungan politik.
Bukankah mencari dukungan politik tersebut menyasar komunitas dukungan yang sebelumnya sudah ada?
Jika calon tersebut akan mengikuti pemilihan presiden misalnya, bukankah ia harus mampu menarik simpati pendukung capres yang sebelumnya?
Maka dari itu tantangan bagi siapapun capres 2024 yang ingin menang nantinya dalam pemilihan presiden. Tentu dirinya harus mampu dalam gerakan politik itu merangkul simpatisan politik calon presiden sebelumnya.
Sebagaimana dulu di pilpres 2019, dimana hanya ada dua pasangan calon yakni Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo Sandi.
Bukankah para calon presiden nanti di pilpres 2024 harus dapat menarik simpati mantan pendukung paslon di pilpres 2019 tersebut?